Tag

, , , , ,

Dimuat di harian Kontan, 17 Juni 2008.

Keluarnya PP No. 39/2008 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian ditanggapi tak nyaman oleh sebagian pelaku asuransi. Perusahaan asuransi bermodal kecil khawatir tidak mampu memenuhi aturan modal minimum dalam tenggat waktu yang diberikan.

PP yang ditandatangani Presiden pada 23 Mei 2008 tersebut mensyaratkan modal sendiri perusahaan asuransi sebesar Rp 100 miliar dan perusahaan reasuransi Rp 200 miliar di akhir tahun 2010. Sedangkan modal sendiri asuransi syariah sebesar Rp 50 miliar dan pialang asuransi/reasuransi Rp 1 miliar, harus bisa dipenuhi pada akhir tahun ini.

Modal sendiri minimum perusahaan asuransi dan reasuransi dilakukan pentahapan. Akhir tahun 2008, modal sendiri perusahaan asuransi Rp 40 miliar dan reasuransi Rp 100 miliar. Sedangkan di akhir tahun 2009, masing-masing besarnya Rp 70 miliar dan Rp 150 miliar.

Naiknya modal ini diharapkan bakal mengurangi defisit neraca pembayaran asuransi dengan luar negeri. Tiap tahun, premi yang disetor ke perusahaan reasuransi luar negeri lebih besar daripada pembayaran klaim yang diterima perusahaan asuransi/reasuransiIndonesia. Tahun 2006, Indonesia defisit sebesar Rp 3,82 triliun atau naik sebesar atau naik 5 persen dari tahun sebelumnya senilai Rp 2,68 trilun.

Banyaknya premi ke luar negeri disebabkan rendahnya kemampuan meretensi risiko industri asuransi di dalam negeri. Salah satu pemicunya adalah kemampuan modal perusahaan asuransi dan reasuransi yang tidak besar.

Dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, aturan modal minimum di Indonesia saat ini memang lebih kecil. Di Malaysia, modal disetor untuk asuransi umum dan jiwa masing-masing sebesar RM 100 juta (sekitar Rp 280 miliar). Sementara itu diThailandsebesar THB 300 juta untuk asuransi umum dan THB 500 untuk asuransi jiwa.

Tidak Siap?

Hingga Agustus 2007, ada 94 asuransi umum dan 46 asuransi jiwa. Akhir tahun 2006, setidaknya ada 70 asuransi umum dan 25 asuransi jiwa dengan modal sendiri di bawah Rp 100 miliar.

Aturan modal ini sebenarnya mundur dari jadual semula. Awalnya, perusahaan asuransi diharapkan mencapai modal Rp 25 miliar pada akhir 2007, Rp 60 miliar pada akhir 2008, dan Rp 100 miliar pada akhir 2009. Sedangkan reasuransi Rp 80 miliar pada akhir 2007, Rp 135 miliar pada akhir 2008 dan Rp 200 miliar pada 2009.

Ini artinya wacana peningkatan modal itu sudah lama. Bahkan telah dikenalkan sejak PP 63/1999 yang mengatur modal disetor untuk pendirian perusahaan baru. Sinyal itu seharusnya dijadikan pendorong pelaku industri asuransi untuk segera menambah modal.

Perusahaan yang modalnya belum beranjak signifikan dikarenakan ketidakmampuan atau ketidakmauan pemegang saham untuk menambah modal. Pemegang saham pasti melakukan kalkulasi dengan persyaratan bahwa penambahan modal harus menguntungkan bagi bisnisnya.

Beberapa Alternatif

Aturan regulator sudah keluar. Perlu jalan keluar bagi pemegang saham yang tidak mampu menambah modal. Beberapa alternatif antara lain menarik investor baru, merger, menjual atau konversi ke asuransi syariah. Alternatif ini memang tidak gampang dilaksanakan, tetapi harus ada jalan keluar.

Menarik investor baru untuk menyuntikkan dananya ke perusahaan asuransi memang tidak mudah. Investor akan berhitung seberapa besar dan cepat pengembaliannya. Di industri asuransi umum, menggaet investor baru mungkin lebih sulit karena investor lebih gamang menimbang persaingan tarif yang sangat ketat. Seolah-olah persaingan sudah sampai pada hukum rimba hingga menunggu siapa yang bakal tumbang.

Sedangkan alternatif merger memang tidak segampang yang dibayangkan. Dulu kesulitan merger lebih banyak ditopang oleh keengganan pemilik saham karena ingin tetap menjadi penentu di perusahaan yang dimilikinya.

Bagi perusahaan-perusahaan asuransi yang dimiliki oleh pemegang saham yang sama atau dalam satu grup, merger relatif lebih mudah dilaksanakan. Saat ini beberapa asuransi kecil dimiliki oleh pemegang saham yang juga punya saham di perusahaan asuransi lain. Demikian juga, beberapa perusahaan asuransi yang mempunyai anak perusahaan asuransi, lebih mudah menyatukannya.

Bagi yang sulit dengan kedua alternatif di atas, bisa menjual perusahaannya atau untuk diakuisisi perusahaan asuransi lain. Adaperusahaan kecil tapi ‘seksi’, yang mempunyai daya tarik untuk diakuisisi. Perusahaan dengan pasar captive atau kinerjanya yang terus-menerus bagus, tentu lebih mudah dijual.

Konversi ke Syariah

PP 39/2008 mewajibkan perusahaan asuransi syariah bermodal sendiri Rp 50 miliar. Ketentuan modal ini lebih kecil dibandingkan asuransi konvensional karena asuransi syariah menganut prinsip risk sharing, bukan risk transfer seperti asuransi konvensional. Dengan konsep ini, perusahaan asuransi tidak menanggung risiko tetapi hanya sebagai pengelola dana (premi) milik pemegang polis.

Secara tersirat, ketentuan modal minimum asuransi syariah ini memberikan jalan keluar dari kebuntuhan. Ini sebuah peluang bagi perusahaan asuransi yang tak mampu menambah modal hingga Rp 100 miliar, bisa berkonversi menjadi asuransi syariah.

Bisnis secara syariah tidak ada syarat bahwa pemilik saham atau karyawannya beragama Islam. Yang pentingnya bisnisnya dijalankan sesuai prinsip-prinsip syariah. Di negara-negara dengan penduduk mayoritas nonmuslim, bisnis secara syariah juga berkembang baik. Bahkan pemerintah Inggris berambisi menjadikan Londonsebagai pusat keuangan syariah terkemuka dunia.

Adasisi positif-negatif konversi ‘terpaksi’ ini, namun ini jauh lebih baik daripada ditutup. Bisnis syariah tidak boleh dipandang sebelah mata karena telah terbukti laku diIndonesiadan negara lain. Kini di Indonesia ada dua perusahaan asuransi syariah dan 40 perusahaan yang mempunyai unit syariah. Gairah pertumbuhan asuransi syariah juga akan semakin tinggi pascaperaturan modal minimum ini.

Beberapa alternatif di atas harus didukung sepenuhnya oleh pemerintah. Artinya, pemerintah dituntut untuk memfasilitasi atau memberi insentif, jika diperlukan. Bagi perusahaan asuransi/reasuransi yang sudah aman, hendaknya didorong untuk membantu dengan mengakuisisi perusahaan kecil untuk memanfaatkan secara maksimal potensinya.

Tantangan terberat selain pemenuhan jumlah modal adalah persoalan tenggat waktu. Akhir tahun 2008 tinggal enam bulan yang harus dipenuhi bagi asuransi/reasuransi atau pialang yang bermodal di bawah ketentuan. Kini pemilik saham berhitung dan berpacu dengan waktu.

About these ads