Tag

, ,

Judul Buku: Liberalisasi Islam di Indonesia (Fakta & Data)
Penulis: Adian Husaini
Penerbit : Dewan Dakwah Islamiyah  Indonesia, Mei 2006
Dimuat di Indo Pos & Jawa Pos,27 Agustus 2006.

Perdebatan aliran teologi Qodariyah, Jabariyah, atau Mu’tazilah dalam Islam sudah tidak menarik lagi. Perbedaan yang tidak pernah ada titik temunya itu dianggap usang dalam khasanah intelektual Islam. Dalam beberapa tahun terakhir, liberalisasi Islam telah menyeruak menjadi tema perdebatan yang sangat sengit di jagat intelektual Islam di Indonesia.

Dengan heterogennya aliran-aliran Islam, tidak sedikit menjadi aliran nyeleneh yang keluar dari mainstream ajaran Islam itu sendiri. Di antara beberapa aliran Islam ini, seperti Ahmadiyah, Ingkar Sunnah, atau Lia Eden, maka kelompok Islam liberal adalah yang paling punya masa depan.

Wajar saja, karena mereka mendapat sokongan yang kuat dari negara asing. Negara Barat punya agenda untuk melemahkan Islam dengan proyek liberalisasi Islam secara besar-besaran. Dana pun digelontorkan untuk LSM yang bersedia menjadi corongnya.

Liberalisasi Islam yang mereka bawa benar-benar mengerikan. Tidak hanya melakukan dekonstruksi terhadap syariat Islam, mereka bahkan membongkar landasan akidah. Apa yang mereka lakukan ini sebenarnya mengikuti jejak tradisi Yahudi dan Kristen (hlm. 6).

Dalam buku Liberalisasi Islam di Indonesia, Adian Husaini mengelompokkan tiga program liberalisasi Islam yaitu liberalisasi akidah Islam, liberalisasi Alquran, dan liberalisasi syariat Islam. Liberalisasi akidah Islam dilakukan dengan penyebaran paham pluralisme agama. Sejarah Islam sendiri sebenarnya mengakui keberagaman alias pluralitas, yakni mengakui adanya agama lain. Islam juga mengajarkan untuk menghormati dan saling menghargai pemeluk agama lain dalam bingkai perbedaan. Pemahaman tentang keberagaman ini tidak dilarang.

Tapi pluralisme agama ini tidak dipahami demikian. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. Dalam bahasa sederhana, semua agama itu sama. Sehingga tidak boleh ada klaim bahwa agamanya sendiri yang benar.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun perlu meluruskan. Tahun 2005, MUI mengharamkan ajaran ini. Vatikan pun dibuat gerah. Pada 2000, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia mengeluarkan Dekrit “Dominus Jesus” yang menolak paham pluralisme agama.

Hasil kajian disertasi doktor yang dipublikasikan dalam buku Tren Pluralisme Agama, Dr Anis Malik Thoha berhasil membuktikan bahwa pluralisme agama adalah sebuah “agama baru” yang destruktif terhadap semua agama. Ide yang terkesan memberikan solusi menjanjikan, menurut Anis, justru sebenarnya intoleran, pemaksaan, dan penuh kezaliman.

Aspek kesucian Alquran juga diruntuhkan oleh penganut liberalisasi Islam dengan menyamakannya dengan kitab agama lain. Bahkan Kalamullah itu dianggap masih bermasalah dan perlu diedit. Tidak perlu mensakralkan Alquran karena kitab ini dianggap sebagai perangkap bangsa Quraisy (hlm. 41).

Kekonyolan dilanjutkan dengan melakukan liberalisasi syariat Islam. Hukum Islam yang sudah qath’iy dan pasti, dibongkar dan dibuat hukum baru. Paradigmanya adalah kontekstualisasi. Sebagian hasilnya adalah “fatwa” diperbolehkannya kawin beda agama atau kawin sesama jenis (homoseksual).

Mengungkap dengan Fakta

Kegalauan Adian semakin mendalam tatkala melihat bahwa liberalisasi Islam justru banyak muncul dari kampus yang berlabel agama, yakni IAIN/UIN. Ini adalah buah dari benih liberalisasi Islam yang ditanam Harun Nasution saat memimpin IAIN Ciputat tahun 1970-an.

Jika kita amati, ada sebuah fenomena religiusitas yang bisa dijumpai sejak era 90-an. Terjadi “sekularisasi” kelompok “santri” dan “santrinisasi” kelompok “sekuler”. Di kampus yang dianggap santri seperti IAIN justru terjadi “sekularisasi”. Namun perguruan tinggi umum yang dicap “sekuler”, justru ditemukan gairah keberagaman yang sangat kuat.

Apa yang diungkap Adian dalam buku ini bukan omong kosong. Kandidat doktor bidang pemikiran dan peradaban Islam di Universitas Islam Internasional Malaysia ini mengajukan fakta dan data. Berbagai pemikiran pengasong liberalisasi Islam baik melalui buku, kajian akademik, atau artikel di media massa didokumentasikan dengan baik.

Di sisi lain, banyak yang menyangsikan konsistensi pemikiran dan tindakan penganjur liberalisasi Islam. Mereka menganggap semua agama sama benar, tetapi hingga kini belum ada berita mereka berbondong-bondong bereksperimen pindah agama untuk menjajal teori mereka. Tohbukannya, kata mereka, semua agama sama benar.

Yang jelas, pemikiran liar mereka bisa tak terbendung. Dengan didukung dana negara asing dan corong media massa, mereka bisa menginjeksikan virus liberalisme ke masyarakat secara massif.

Buku ini bisa dikatakan sebagai ringkasan dari tiga buku yang ditulis Adian. Yaitu Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (2002), Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal (2005), dan Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (2006).

Adian sangat produktif menulis buku, kehadirannya sangat diperlukan sebagai penyeimbang derasnya kampanye liberalisasi Islam. Dalam buku Intelegensia Muslim dan Kuasa (Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20), Dr Yudi Latif menempatkan Adian sebagai generasi keenam intelektual Islam. Posisi pemikirannya berdiri diametral dengan penerus ide pembaruan Islam.

Bagi mereka yang tidak sempat membaca kajian Adian yang komperehensif dalam ketiga bukunya, buku yang disajikan secara bernas ini cocok untuk dijadikan buku saku. Setidaknya, melalui buku ringkas ini, orang akan sedikit tahu dan waspada terhadap aliran yang merusak Islam dari dalam. Mungkin inilah tujuan dipublikasikan buku kecil ini yakni memberikan pandangan sekilas. Selanjutnya, jika ingin tahu lebih dalam, bisa membaca kajian komprehensif pada tiga buku di atas.

***