Tag

, , ,

Buku: Leading in Crisis
Penulis: Robby Djohan
Penerbit: Penerbit Bara, 2006
Dimuat koran Media Indonesia, Sabtu, 17 Juni 2006

Sukses menahkodai organisasi dalam kondisi normal, tidak menjadi jaminan berhasil mempimpin saat organisasi diguncang krisis. Robby Djohan, mantan Chief Excecutive Officer (CEO) Bank Niaga, Garuda Indonesia, dan Bank Mandiri ini menghadirkan sebuah buku agar siapapapun, khususnya generasi muda, bisa belajar dari pengalamannya. Dia ingin berbagi ilmu dan pengalaman memimpin perusahaan di saat krisis.

Sebagian kecil isi buku ini pernah dipaparkan dalam buku Robby sebelumnya yang berjudul The Art of Turnaround: Kiat Restrukturisasi, khususnya pada inside story mega merger Bank Mandiri. Namun jangan dikira bahwa buku ini melulu membahas kesuksesan merger Bank Mandiri. Kisah merger yang spektakuler disajikan di sebagian awal buku. Selebihnya, sepuluh dari 12 bab dalam buku ini membahas spektrum yang lebih luas, yakni teori dan praktek kepemimpinan dalam krisis.

Gaya khas Robby dan percaya diri yang tinggi membalik keragu-raguan akan kemampuan anak bangsa dalam memimpin sekenario “Supernova” yakni penggabungan empat bank yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bapindo, dan Bank Exim. International Monetary Fund (IMF) memberikan target waktu merger dua tahun, namun dimata Robby cukup enam bulan.

Sebagai CEO bertangan dingin tidak hanya dibuktikan saat memimpin Bank Niaga. Robby juga berhasil ‘menerbangkan’ kembali Garuda yang saat itu mengalami ‘pendaharahan’.

Sangat tepat buku ini diberi judul Leading In Crisis karena cukup mewakili kehadiran Robby di Garuda yang mengalami masalah keuangan dan di Bank Mandiri yang kelahirannya membutuhkan sentuhan ekstra layaknya perusahaan yang mengalami krisis.

Lima Kunci Sukses

Dalam lima bab, Robby memberikan kunci sukses memimpin di saat krisis yaitu trust, focus, team spirit, respect, dan risk. Menurut Robby, memimpin dalam krisis sangat membutuhkan karisma, keahlian, dan behavior untuk mengambil keputusan (hal 149). “Sasaran jangka pendek harus lebih diprioritaskan ketimbang visi dan strategi untuk membangun sustainability,” ujar jebolan Citibank ini.

Kunci kedua adalah kepercayaan (trust). Dalam kasus merger Bank Mandiri, Deutsche Bank yang ditunjuk sebagai konsultan mengakui sulit mendapat kepercayaan dari direksi bank yang akan dimerger, namun Robby berhasil menanganinya.

Komite Merger Bank Mandiri yang dengan bangga disebut Robby sebagai the dream team, mampu menunjukkan sebagai tim terbaik. Robby mampu mengolah team spirit dan memimpinnya dengan skills, experience, dan behaviour positive. Dia juga menunjuk anggota tim yang ahli dan penuh motivasi. Diakuinya bahwa saat krisis Bank Mandiri, karyawan telah demotivated, tetapi semangat terus dipompa dan menghasilkan tim yang solid.

Saling menghormati antara pimpinan dan karyawan adalah mutlak harus dilakukan. Respek akan lahir bila pemimpin menjadi contoh yang baik. Ini yang akan memunculkan self motivation dalam organisasi.

Sementara itu kunci kelima yakni risk. Di sini, Robby berbicara tentang tantangan perubahan. Satu pemikiran dengan Rhenald Kasali dalam buku Change!, keduanya menggunakan kurva perubahan yang dikenal dengan Sigmoid Curve, bahwa setiap organisasi mengikuti siklus perubahan. Untuk itu organisasi harus siap berubah dan tidak perlu takut.

Ditengah pujian kesuksesan Robby meramu dan melaksanakan jurus-jurus merger bank-bank besar yang belum pernah terjadi di Indonesia, selain menghargai kinerja timnya, Robby juga mengakui peran besar karyawan Bank Mandiri yang pada mulanya tidak punya harapan.

Dengan rendah hati, dia juga mengakui bahwa merger dan restrukturisasi hanyalah academic exercise dan tidak berarti apa-apa jika pemerintah tidak menyuntikkan modal sebesar Rp 178 triliun. “Tetapi, tentu saja pemerintah tidak akan memberi dana rekapitalisasi bila merger dan restrukturisasi Bank Mandiri gagal dilaksanakan,” tambahnya dalam kesimpulan buku ini.

Gaya bertutur buku ini juga sangat mirip dengan buku sebelumnya. Kita akan merasakan seolah-olah mendengar kisah dari mulut Robby langsung. Dengan didukung bahasa yang lugas dan khas, serta sedikit gado-gado, akan membuat pembaca penasaran isi buku secara utuh.

Keunggulan buku ini adalah memadukan antara teori dan praktek. Penulis adalah mantan CEO sukses, namun buku ini dihadirkan tidak melulu berkisah tentang pengalaman, namun dibumbuhi lengkap dengan teori-teori kepemimpinan. Jadi tidak seperti banyak buku kepemimpinan karangan akademisi yang ‘hanya berteori’ atau buku success story seorang praktisi. Ini adalah buku kepemimpinan yang bertopang pada teori dan pengalaman sukses penulisnya dalam memimpin.

Layaknya sebuah biografi yang selalu mengumbar kebaikan orang yang ditulis, buku ini juga tidak mengusik sisi negatif dari sosok Robby. Namun begitu, Robby cukup jujur mengakui tentang gaya kepemimpinannya yang sangat decisive dan action oriented yang mungkin tidak semua orang cocok.

Sayangnya buku ini terkesan diskriminatif ketika memberikan the big picture ekonomi politik hanya pada tiga masa presiden yaitu Soekarno, Soeharto, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal tiga presiden lainnya juga punya visi dan kebijakan ekonomi-politik yang tidak kalah menarik. Bahkan kebijakan merger justru dilakukan di masa Habibie.

Para pimpinan perusahaan dan para calon pemimpin seharusnya membaca buku ini. Tumpukan buku teori memimpin perusahaan bisa dengan mudah ditemukan di toko buku. Namun buku yang mengupas praktek memimpin perusahaan sekarat dan sekaligus diramu dengan teori kepemimpinan, masih bisa dihitung dengan jari.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih krisis, Indonesia sangat membutuhkan banyak ‘Robby Djohan’ untuk bangkit dari keterterpurukan. Apalagi menengok beberapa BUMN yang masih terus merugi dan butuh suntikan dana yang membebani negara.

Yang juga menarik adalah dalam rentang dua bulan, kita disuguhi dua buku yang bertutur kesuksesan memimpin bank besar. Anak bimbing Robby di Bank Niaga yakni Arwin Rasyid juga mengisahkan keberhasilannya memimpin Bank Danamon dalam buku “180 Derajat, Inside Story Transformasi Bank Danamon (Penerbit Bara, Januari 2006)”. ‘Guru dan murid’ itu sama-sama bercerita tentang jerih payah restrukturisasi dalam bentuk merger.

***