Tag

, , ,

Buku: Memahami Dunia Lewat Sepak Bola
Penulis: Franklin Foer
Penerbit: Marjin Kiri, 2006
Dimuat Koran Tempo, Minggu, 18 Juni 2006

Demam Piala Dunia sedang menjangkiti orang-orang di seluruh dunia. Hajatan akbar itu tidak semata-mata urusan pertandingan antarfinalis World Cup 2006. Sepak bola adalah simbol kemenangan globalisasi.

Sepak bola inheren dengan bisnis kapitalis dan perputaran uang miliaran dollar dalam transfer pemain, iklan, pasar taruhan, hingga urusan mode dan gaya hidup.

Dalam buku Sepak Bola, Pesona Sihir Permainan Global, Richard Giulianatti menyebut sepak bola telah menjadi mesin-mesin kebudayaan massa dan menjadi bagian dari budaya pop global.

Tapi pernahkah kita membayangkan bahwa sepak bola ternyata juga tidak lepas dari intrik politik, pemberontakan, pembantaian massal, sentimen etnis, konflik agama, atau perjuangan melawan korupsi? Sepanjang sejarah dunia, banyak gerakan perlawanan yang digodok di lapangan bola. Buku Memahami Dunia Lewat Sepak Bola karya Franklin Foer menyuguhkan fakta-fakta itu.

Mungkin tidak banyak yang tahu sejarahnya mengapa Real Madrid dan FC Barcelona menjadi musuh bebuyutan. Mereka tidak hanya bersaing memperebutkan mahkota La Liga, namun ketegangan itu berakar dari kepentingan politik penguasa Spanyol yang selalu membela Real Madrid sejak tahun 1920-an.

Kekalahan telak El Barca 1-11 atas El Real di semi final Piala Generalissimo tahun 1943 tidak lepas dari intimidasi penguasa pada para pemain Barca. Namun di tengah suasana demokratis saat ini, perasaan terdzalimi Barca justru dimanfaatkannya untuk menekan pemerintah Spanyol agar mengucurkan dana lebih kepada basis Barca di Katalunya.

Kebencian patologis antara klub Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic juga dianggap sebagai perang yang belum tuntas antara Katolik dengan gerakan Reformasi Protestan. Masing-masing hooligan siap bertaruh nyawa. Suporter Rangers sering menamakan diri “Billy Boys”, yakni geng yang menghabisi umat Katolik Glasgow pada Perang Dunia I dan II.

Bab pertama buku ini bisa membuat perut bergolak. Tidak lain adalah kisah pembantaian di Bosnia oleh Arkan, pemilik klub sepak bola Obilic. Melalui milisinya, Tigers, yang diantaranya terdiri dari suporter sepak bola, tangan Arkan berlumuran darah orang-orang Islam.

‘Pembunuh bayaran’ Presiden Slobodan Milosevic ini berkontribusi signifikan pada perkembangan sepak bola di Serbia. Di bawah Arkan, klub Obilic mudah menjadi juara karena pemain lawan di bawah bayang-bayang ancaman jika menyarangkan bola ke gawang Obilic.

Cerita hooligan dari negeri kampium bola, Inggris, juga menambah daftar hitam sepak bola. Cerita ini adalah salah satu dari bagian pertama buku yang menjelaskan tentang gagalnya globalisasi dalam mengikis kebencian kuno dalam olah raga ini. Syukurlah Foer tidak hanya mengangkat sisi buram sepak bola.

Bagian kedua menukik pada efek sepak bola pada persoalan ekonomi. Salah satu yang diangkat adalah perjuangan legenda sepak bola, Pele, mereformasi sepak bola Brasil. Setelah diangkat menjadi Menteri Luar Biasa Olah Raga, dia mengajukan UU Pele yakni undang-undang anti korupsi yang memaksa klub sepak bola untuk transparan. Sayangnya gerakan reformasi ini layu setelah Pele mundur dari pemerintahan (hal 126).

Bagian terakhir mengulas sepak bola yang dipakai untuk membela nilai-nilai nasioanalisme gaya lama, sebagai cara meredam kembalinya tribalisme. Kisah manis itu bisa ditemukan di Iran. Di negeri para mullah ini, sepak bola awalnya menjadi olah raga ‘haram’ bagi perempuan. Namun lolosnya Iran ke Piala Dunia 1998 menjadi momentum “revolusi bola”. Rezim yang berkuasa tak kuasa melarang kaum perempuan merayakannya di stadion Azadi. Selanjutnya, efek sepak bola tak terbendung dalam kehidupan rakyat Iran.

Efek-efek Sepak Bola

Sepak bola kini juga telah menjadi simbol kapitalisme global. Sebagai olah raga yang populer, sepak bola adalah bentuk serangan globalisasi yang imbasnya sangat massif. Amerika Serikat, yang dahulu rakyatnya menghujat sepak bola, justru menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994. Dalam hal sepak bola, Amerika telah menjadi korban globalisasi.

Buku ini sungguh mencengangkan. Sama sekali tidak ada pembahasan tentang gol ‘tangan Tuhan’ Maradona, total football Belanda, atau gaya catenaccio Italia. Mereka yang mengaku maniak bola belum tentu mengetahui kaitan sepak bola dengan kondisi sosial-politik-historis suatu negara. Dengan bahasa yang lugas, provokatif, bahkan sedikit kasar, pembaca tidak akan sabar untuk merampungkan seluruh isi buku ini.

Memang tidak semua peristiwa bermula dari sepak bola. Kasus-kasus yang diangkat Foer sebagian adalah interaksi ‘tidak sengaja’ antara sepak bola dengan dimensi sosial-politik suatu negara.

Ketika melihat sampul buku, mungkin banyak yang terjebak pertanyaan skeptis adakah hubungan sepak bola dengan sosial-politik globalisasi? Sebagai seorang jurnalis, Foer meracik kisah-kisah sejarah, reportase, dan sedikit analisis sosilogi yang menakjubkan.

Dengan hanya 10 bab, karya Foer ini tidak dimaksudkan sebagai kajian sosiologis yang komprehensif. Di banyak negara pasti punya cerita lain tentang sepak bola dan interaksinya dengan masyarakat. Tapi buku ini bisa menjadi pemicu kajian lain yang lebih terstruktur dalam bingkai analitis-akademis.

Foer secara historis berhasil menghadirkan akar ideologis pemicu perseteruan antarklub sepak bola. Namun seberapa besar kebencian ideologis itu masih bertahan pada generasi saat ini? Tidakkah telah bermetamorfosis secara total? Buku ini tidak memberikan jawabnya secara pasti.

***