Tag

, , , , ,

Dimuat di Media Asuransi, Desember 2008.

Pelaku industri asuransi umum seharusnya ‘iri’ dengan ‘saudaranya’, asuransi jiwa. Bagaimana tidak, enam tahun lalu, total premi nasional asuransi umum dan reasuransi masih di atas premi asuransi jiwa. Tapi sejak tahun 2002, total premi asuransi jiwa selalu lebih besar dan tak terkejar.

Pertumbuhan premi asuransi jiwa selalu di atas 20%. Bahkan hingga kuartal ketiga tahun 2007, premi asuransi jiwa optimis melonjak hingga 71% dibanding tahun lalu. Sementara itu premi asuransi umum merangkak pelan. Bahkan tahun 2005, total premi asuransi umum dan reasuransi yang terkumpul hanya Rp 16,08 triliun atau turun 4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 16,7 triliun.

Data Media Asuransi dari 91 asuransi umum di tahun 2006, hanya mengumpulkan premi Rp 15,5 triliun atau naik 3,14% dibandingkan tahun 2005. Sedangkan 43 asuransi jiwa meraup Rp 27,44 triliun atau naik hampir 23% dibanding tahun sebelumnya.

Apa yang terjadi dengan asuransi umum? Pelaku industri asuransi sudah tahu jawabannya, yakni perang tarif. Sudah tahu penyebabnya, tetapi mengakhiri perang tarif hanya ada di tingkat wacana, tanpa komitmen serius untuk berbenah. Sehingga pelaku industri asuransi umum seolah ‘menikmati penderitaan’ dari tahun ke tahun.

Di penghujung tahun 2007, belum ada tanda-tanda perbaikan itu. Tahun 2008, kondisi ini diprediksi bertahan. Masing-masing masih banyak berdebat siapa penyebabnya. Sebagian mengatakan penyebab banting harga adalah broker asuransi. Tapi broker bisa berdalih itu terjadi karena perusahaan asuransi mau melahap tarif premi yang kecil. Broker tentu tidak ingin tarif anjlok karena otomatis komisi yang diterima juga kecil.

Jika ada penurunan tarif secara normal, misalnya sebagai kompensasi no claim bonus atau profit commission on renewal, maka total premi nasional tidak akan turun. Pasalnya, nilai pertanggungan secara nasional tiap tahun makin naik karena adanya pertumbuhan ekonomi dan naiknya aset yang dimiliki perusahaan atau individu. Di samping itu, kesadaran masyarakat berasuransi ada kecenderungan meningkat.

Di sisi lain, eksposur risiko bertambah besar sebagai dampak pemanasan global seperti banjir, badai, kekeringan, dll. Artinya, potensi klaim makin naik untuk tahun-tahun ke depan. Jika tarif turun, industri asuransi umum terhimpit dari berbagai penjuru.

Tahun Ujian

Tahun 2007 ditandai dengan keluarnya Peraturan Menteri Keuangan nomor 74/PMK.010/2007 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Lahirnya PMK 74/2007 ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai babak baru tarif asuransi kendaraan, tetapi harusnya menjadi otokritik bagi pelaku industri asuransi.

PMK itu menjadi bukti bahwa industri asuransi umum masih seperti anak kecil. Untuk berubah, kadang perlu dipaksa. Bertahun-tahun perang tarif asuransi kendaraan tidak ada obatnya. Pelaku asuransi tak berdaya dan hanya mengikuti mekanisme pasar, tanpa bisa mengontrol. Dengan PMK ini, perang tarif diharapkan terkikis.

Kekagetan konsumen kendaraan dan perusahaan multifinance hanya sementara. Kenaikan ini tidak terlalu signifikan. Pemilik kendaraan dan perusahaan pembiayaan masih bisa mensiasati kenaikan tarif ini agar tidak membebani.

Tahun 2008 adalah masa-masa ujian bagi industri asuransi umum. PMK ini adalah mata ujiannya. Meskipun sudah ada kesepakatan seluruh perusahaan asuransi bakal tunduk pada PMK ini, tapi perlu bukti.

Jika nanti industri asuransi umum mampu bertahan pada ketentuan PMK, maka perbaikan tarif bisa merembet ke lini asuransi lain. Tarif asuransi kebakaran (properti) juga mendesak untuk dibenahi, disamping asuransi rekayasa, asuransi pengangkutan barang, atau lainnya.

Namun sebaliknya, jika pelaku asuransi umum tidak tahan godaan untuk melakukan jor-joran tarif kendaraan, maka tarif akan kembali ‘normal’ seperti sebelum PMK dirilis. Masa suram industri asuransi umum bakal terus berlanjut. Kesimpulannya, industri asuransi umum sudah tidak bisa diatur. Imbasnya, pelakunya hanya mengeluh dan menghitung masa untuk menjumpai satu per satu asuransi yang akan tumbang. Tentu, nasib karyawan dan keluarganya menjadi taruhannya.

Ujian tambahan di tahun depan adalah merapatnya ke 2009 dimana Pemilu bakal digelar. Kenaikan suhu politik diperkirakan berpengaruh pada bisnis perekonomian. Namun kalaupun ada efek ke industri asuransi, itu tidak akan besar sepanjang kondisi politik masih dalam taraf normal. Pengalaman beberapa kali Pemilu secara aman akan makin mematangkan masyarakat bahwa Pemilu adalah hajatan biasa yang tak perlu mengganggu stabilitas nasional.

Kondisi ekonomi 2008, menurut pengamat, juga berat karena pengaruh global baik harga minyak maupun krisis keuangan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan 6,8% di tahun depan.

Tantangan Reasuransi

Dunia asuransi di tahun 2007 tidak banyak terpukul oleh klaim besar seperti di tahun 2005. Seperti diketahui, dua tahun lalu adalah masa buruk industri asuransi dunia. Badai Katrina, Wilma dan Rita adalah tiga klaim terbesar sejak tahun 1970 sebesar US$ 89,64 miliar (Swiss Re, Sigma No. 2/2007).

Pada tahun 2006, premi reasuransi naik tajam karena reasuradur membutuhkan recovery atas kerugian besar tahun sebelumnya. Meskipun tidak ada kerugian sangat menonjol tahun 2005 diIndonesia, tetapi imbasnya sangat terasa yakni naiknya premi reasuransi diIndonesia di tahun 2006. Hal sebaliknya terjadi ketika tidak banyak klaim yang diderita reasuransi dunia pada tahun 2006. Premi reasuransi beberapa perusahaan asuransi Indonesia pada tahun 2007 tidak dikenakan kenaikan prem. Bahkan di beberapa lini bisnis asuransi tertentu, premi reasuransi ada yang turun.

Jika memperhatikan bencana di dunia tahun 2007 dan kerugian reasuransi global, maka seharusnya tidak ada kenaikan premi reasuransi tahun 2008. Namun untuk kasusIndonesiabisa lain. Ini disebabkan masih amburadulnya pengelolaan manajemen risiko yang dilakukan pemerintah, pelaku industri maupun masyarakat. Kasus banjirJakartayang lebih besar dibandingkan tahun 2002 dapat disimpulkan bahwa kerugian katastropik diIndonesiamasih menjadi ancaman besar. Hal serupa terjadi pada bisnis penerbangan. Dengan demikian, premi reasuransi bisa mengalami kenaikan.

Fase Prakondisi

Tiap pergantian tahun, ada banyak harapan menuju yang lebih baik. Begitu juga dengan industri asuransi yang seharusnya belajar banyak dari tahun-tahun silam. Harapan di tahun 2008 tentu saja tumbuhnya iklim asuransi yang lebih baik. Namun jika kondisi tahun 2007 tetap berjalan di tahun depan, maka pertumbuhan industri asuransi umum bisa dibilang mandek karena hanya tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.

Ide perbaikan itu perlu diturunkan dari tingkatan wacana ke ranah aksi nyata. Namun demikian, harapan seharusnya diukur dengan kemampuan untuk menggapainya. Bila ada komitmen kuat, tahun 2008 bisa dijadikan sebagai fase prakondisi perbaikan tarif.

Untuk membalikkan perang tarif menjadi tarif wajar di tahun 2008 adalah sebuah harapan utopis. Gelagat itu belum terlacak sampai penghujung tahun 2007. Secara teori bahwa tarif premi harus disesuaikan dengan risiko adalah benar. Tetapi apa berarti harus menaikkan tarif hingga dua kali lipat dari sekarang? Tentu tidak harus begitu.

Perlu sebuah fase prakondisi menuju tarif yang wajar. Dua hal yang paling mungkin dilakukan dalam fase prakondisi ini adalah dengan tidak menurunkan tarif atau membuat kondisi pertanggungan (terms & conditions) yang disesuaikan dengan risikonya.

Jika tertanggung tidak pernah klaim, masih dimungkinkan diberikan bonus diskon tarif yang wajar untuk perpanjangan polis. Bila tarif yang diminta tertanggung/broker sangat kecil, kondisi pertanggungan asuransi bisa dipersempit sesuai dengan tarifnya. Adalah wajar jika tertanggung meminta kondisi lebih luas, tarif dinaikkan. Perusahaan asuransi harus punya komitmen masing-masing dan secara komunal untuk berubah dan tak tergoda menurunkan tarif.

Fase prakondisi tersebut menemukan momen yang tepat tatkala di tahun 2008, perusahaan asuransi umum harus membuktikan janjinya untuk patuh pada PMK 74/2007. Kesepakatan bersama antarperusahaan asuransi umum mengenai pematuhan terhadap PMK 74/2007 yang ditandatangani direksi asuransi umum anggota AAUI pada tanggal 11 September 2007 harus benar-benar diimplementasikan. Efek kepatuhan tersebut jelas, yakni premi asuransi kendaraan bakal terkerek tajam. Paling tidak, kenaikan total premi asuransi umum seharusnya bisa mencapai 10% hingga 15%.