Tag

, , ,

Dimuat di Bisnis Indonesia, 5 Maret 2012

Kinerja industri asuransi komersial di tahun 2011 moncer. Bahkan diluar perkiraan. Premi tumbuh 27% menjadi Rp136,6 triliun. Sedangkan kenaikan klaim sebesar 17,5%. Pertumbuhan asuransi jiwa sebesar 28,7%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan asuransi umum sebesar 23,1%. Pertumbuhan premi industri asuransi di Indonesia selalu lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan asuransi dunia dan rata-rata negara berkembang.

Industri asuransi di tanah air terus tumbuh pesat. Sementara di negara lain, khususnya negara maju sudah mulai jenuh. Insurance penetration atau penetrasi asuransi (jumlah premi dibanding dengan produk domestik bruto) di Indonesia masih sangat rendah. Ini menjadi peluang terus tumbuhnya asuransi.

Pada tahun 2010, penetrasi asuransi sebesar 1,84%. Sedangkan tahun 2011 naik menjadi 1,67%. Angka ini masih jauh dibandingkan dengan di AS (8%), Inggris (12,4%), Jepang (10,1%), dan Australia (5,9%). Juga lebih rendah dibandingkan dengan Singapura (6,1%), Malaysia (4,8%), dan Thailand (4,3%) pada tahun 2010 (Sigma, 2011).

Kondisi klaim di tahun 2011 bertolak belakang dengan yang terjadi di industri asuransi dunia. Catatan klaim di industri asuransi umum dunia sangat buruk. Hal ini yang membuat premi reasuransi global naik pada perpanjangan perjanjian reasuransi otomatis tahun 2011. Dampaknya sampai ke Indonesia. Tapi industri asuransi tidak dengan mudah membebankan kenaikan premi reasuransi tersebut ke nasabah. Penyebabnya adalah adanya persaingan ketat dan nasabah yang sensitif terhadap harga.

Daya Tarik Industri

Menurut Hofer dan Schendel (seperti dikutip Wernerfelt & Montgomery, 1986), ada dua hal yang menentukan daya tarik industri yaitu pertumbuhan dan profitabilitas industri. Calandro dan Lane (2007) mengungkapkan hal serupa bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh pertumbuhan dan profitabilitasnya.

Pertumbuhan industri di Indonesia yang selalu tinggi dan pertumbuhan di tahun 2011 yang diluar dugaan adalah magnet bagi investor. Dari sisi profitabilitas, daya tariknya juga tinggi. Sebagai gambaran, dalam kurun waktu tahun 2006-2010, rata-rata return on equity (ROE) industri asuransi umum sebesar 12,34%. Setiap tahun, ROE lebih tinggi dibandingkan suku bunga Bank Indonesia.

Ada sebagian industri yang memiliki ROE yang lebih besar daripada ROE industri asuransi. Namun tidak sedikit industri yang memiliki ROE lebih rendah. Investor tetap saja akan memilih perusahaan asuransi dengan kinerja terbaik.

Dengan catatan klaim tidak besar di tahun 2011, maka hampir pasti laba juga terkerek naik di tahun 2011 (dengan asumsi beban operasional wajar). Makin bagus profitabilitas, akan memberikan imbal hasil yang bagus pula kepada pemegang saham.

Efek Positif

Dalam survey Norton Rose Group (2011) pada industri asuransi di Asia Pasifik, Indonesia diyakini sebagai negara yang pertumbuhan asuransinya terus besar, seperti China dan India. Bertambahnya kesejahteraan dan kelas menengah baru yang membutuhkan proteksi harta dan jiwanya, termasuk simpanan masa depan adalah menjadi pasar potensial asuransi.

Di tahun 2012, industri asuransi dunia memang dihadang oleh dampak krisis dunia. Ada ancaman ekonomi yang melambat yang berdampak pada kinerja industri asuransi nasional. Namun pertumbuhan yang tinggi di tahun 2011 dan imbal hasil yang relatif besar, menjadi daya tarik kuat bagi investor. Juga potensi besar asuransi yang terlihat dari kecilnya insurance density dan insurance penetration di Indonesia.

Ketertarikan investor pada industri asuransi di Indonesia, selanjutnya akan meningkatkan investasi di industri asuransi. Setidaknya diharapkan akan terjadi empat efek lanjutan bagi industri asuransi dan nasabah.

Pertama, ada penambahan modal oleh investor. Ini sejalan dengan persyaratan pemenuhan modal sendiri sebesar Rp70 miliar di akhir tahun 2012 dan Rp100 miliar di akhir tahun 2014. Ada kondisi yang klop. Perusahaan butuh tambahan modal untuk pemenuhan regulasi dan dalam rangka persaingan, sedangkan investor tertarik untuk menambah modal karena berharap dengan imbal hasil dan pertumbuhan industri.

Kedua, kenaikan modal karena tambahan investasi akan menaikkan retensi sendiri. Peluang untuk mendulang laba akan lebih besar. Dengan naiknya retensi sendiri, juga akan meningkatkan kapasitas retensi nasional. Pembayaran premi reasuransi ke luar negeri dapat dihemat. Setap tahun, transaksi reasuransi selalu defisit. Pembayaran ke luar negeri lebih besar daripada penerimaan dari luar negeri.

Ketiga, industri asuransi asing makin tertarik masuk ke Indonesia. Ini bakal meningkatkan persaingan, sekaligus menambah ancaman makin kuatnya pemain asing (khususnya di sektor asuransi jiwa). Namun di sisi lain, kehadiran asuransi asing akan mendorong kinerja yang lebih baik karena industri asuransi akan mendapat pelajaran dan pengalaman tambahan.

Keempat, ketatnya persaingan berefek bagus bagi nasabah, sepanjang pengelolaan perusahaan dilakukan dengan baik. Harga diterapkan secara wajar dan kompetitif. Juga kualitas pelayanan akan makin ditingkatkan oleh setiap perusahaan.

Tantangan kini adalah bagaimana mempertahankan kinerja yang sudah bagus. Ada faktor yang relatif dapat dikontrol oleh pelaku industri, seperti kualitas pelayanan nasabah, kehati-hatian, investasi, bahkan persaingan. Namun ada faktor eksternal, seperti bencana, yang dapat berdampak signifikan pada kinerja industri. Namun dampak bencana tetap dapat dikontrol oleh pelaku industri asuransi. Di sinilah kualitas perusahaan asuransi dalam manajemen risiko diuji.

*****