Tag

, , , , , , , ,

Dimuat di Bisnis Indonesia, 23 Desember 2011.

Hingga semester pertama 2011, industri asuransi umum masih tumbuh menggembirakan. Besarnya pertumbuhan diatas 10%. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan asuransi umum sangat fluktuatif. Pertumbuhan terendah tahun 2006 sebesar 3,6% dan tertinggi tahun 2008 sebesar 24,6%. Rata-rata pertumbuhannya 11,2% dan jauh lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan asuransi umum di dunia yang hanya 0,9% (Swiss Re, 2011).

Rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun ini juga tergolong besar bila dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,7%. Namun dibandingkan dengan produk domestik bruto di tahun 2009, total premi industri asuransi umum nasional hanya sebesar 0,52% (Bapepam-LK, 2010) dan sebesar 0,5% di tahun 2010 (Swiss Re, 2011).

Jika melihat rata-rata pertumbuhan yang cukup baik, maka harapan pertumbuhan dapat disandarkan di tahun 2012. Namun ada dua hal yang menghatui perkembangan industri asuransi umum nasional di tahun 2012. Keduanya berasal dari eksternal.

Pertama, ada krisis di Eropa dan Amerika cukup mampu menahan optimisme. Ada kekhawatiran krisis dunia berimbas pada pertumbuhan industri asuransi umum nasional. Kedua, klaim besar asuransi sepanjang tahun 2011 mampu merubah respon reasuransi dunia, khususnya terhadap kenaikan premi dan pengetatan seleksi risiko. Apa yang terjadi di reasuransi dunia berimbas ke Indonesia karena industri asuransi di seluruh dunia adalah saling terkoneksi.

Penyangga Optimisme

Di tengah ancaman krisis dan efek klaim besar di dunia, industri asuransi umum nasional harus tetap optimis. Optimisme tetap adanya pertumbuhan industri yang bagus tidak sekedar menjadi penyemangat, tetapi juga memiliki landasan yang kuat.

Pertama, industri asuransi umum di Indonesia sudah terbukti tahan krisis. Ketika krisis ekonomi yang sangat parah mendera dunia di tahun 2008, industri asuransi umum justru tumbuh sangat tinggi yakni 24,6%. Pengaruh krisis dunia saat itu dirasakan oleh industri asuransi jiwa yang pertumbuhannya hanya 10,5% atau lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Bapepam-LK, 2011).

Industri asuransi dunia, khususnya reasuransi telah berkali-kali mengalami gejolak. Kondisi tersebut meskipun berpengaruh, namun industri asuransi umum nasional tetap dapat terus tumbuh.

Kedua, persaingan ketat akan terus berlanjut dan itu telah menjadi ciri industri asuransi umum nasional. Persaingan ketat itu seolah menjadi sarana latihan. Modal kuat dan pengalaman yang terbukti di berbagai negara yang dimiliki oleh perusahaan asuransi patungan tetap belum menggoyahkan kekuatan perusahaan asuransi lokal. Beda dengan industri asuransi jiwa yang banyak dikuasasi oleh perusahaan patungan, di industri asuransi umum nasional, pemain besarnya didominasi oleh perusahaan lokal.

Ketiga, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pasca PP No. 81/2008 yang mengatur modal sendiri perusahaan asuransi, terjadi konsolidasi dan penguatan modal. Merger dan akuisisi, serta penambahan modal menjadikan industri asuransi umum nasional makin kuat. Kemampuan menahan risiko (retensi sendiri) meningkat, sekaligus dapat mengurangi risiko yang direasuransikan ke luar negeri sehingga menghemat premi secara nasional.

Keempat, Bank Indonesia menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 menjadi di bawah 6,5%. Dengan melihat sejarah bahwa rata-rata pertumbuhan asuransi umum lebih besar daripada pertumbuhan ekonomi nasional, maka adalah masih wajar bila pertumbuhan asuransi umum nasional diharapkan dapat tumbuh di atas 10% tahun depan.

Optimisme juga ada di industri pembiayaan (multifinance) yang yakin tumbuh 20% di tahun 2012. Bila industri pembiayaan (kendaraan) tumbuh besar, efeknya juga berpengaruh pada industri asuransi umum. Sejak tahun 2010, premi asuransi kendaraan bermotor menggusur dominasi premi asuransi properti selama bertahun-tahun. Hingga semester pertama 2011, premi asuransi kendaraan bermotor masih menjadi jawara.

Tantangan Permanen

Selain tantangan krisis ekonomi dunia dan ancaman kenaikan premi reasuransi risiko katastropik di tahun 2012, industri asuransi umum nasional terus menghadapi tantangan permanennya. Tantangan itu adalah mencari solusi menghadapi persaingan yang semakin sengit dan menaikkan kesadaran masyarakat tentang asuransi (insurance awareness).

Selama pasar asuransi masih ada dan masih besar, persaingan selalu hadir. Strategi cost leadership yang mengedepankan persaingan harga sudah mulai membuat jengah pelaku. Deferensiasi produk asuransi terus menjadi alternatif dan makin dikembangkan perusahaan asuransi. Unit pengembangan produk di perusahaan asuransi semestinya lebih dikedepankan untuk membuka peluang-peluang pasar baru.

Strategi diferensiasi dapat sekaligus mengurai tantangan untuk menaikkan kesadaran berasuransi. Perlu adanya komitmen seluruh pelaku industri untuk menciptakan produk yang fokus pada kebutuhan masyarakat yang belum tersentuh asuransi yakni melalui asuransi mikro.

Kepedulain terhadap asuransi mikro banyak dibuktikan oleh lembaga asing seperti UNDP, GTZ, Lloyd’s, dan Allianz. Asuransi mikro kini sudah dijalankan oleh beberapa perusahaan asuransi. Kehadirannya mampu mengurai dua hal. Pertama, menjadi model jalan keluar persaingan harga yang dapat dikembangkan untuk produk asuransi lainnya. Kedua, mengenalkan asuransi ke masyarakat kecil yang dalam jangka panjang menaikkan kesadaran berasuransi.

*****