Tag

, , , , , , , ,

Dimuat di koran KONTAN, 5 April 2012.

Perusahaan asuransi bermodal kecil sedikit bisa bernafas lega. Bapepam-LK tidak langsung mengeksekusi bila di akhir tahun 2012 tidak bisa mencapai modal sendiri Rp70 miliar. Toleransi diberikan hingga akhir Maret 2013. Syaratnya, perusahaan memberikan rencana kerja pemenuhan modal sendiri (Harian Kontan, 2 April 2012).

Berita ini bagus. Namun nyaris paradoks. Harian Kontan, 28 Maret 2012 memberitakan bahwa niat baik BP Migas yang ingin menaikkan kapasitas retensi nasional untuk asuransi aset, sumur, dan liquefied natural gas, terganjal oleh kecilnya retensi perusahaan asuransi. Ini disebabkan masih kecilnya modal sendiri perusahaan asuransi. Berdasarkan regulasi, maksimum retensi neto perusahaan asuransi adalah sebesar 10% dari modal sendiri.

Bapepam-LK terlihat sangat berhati-hati untuk tidak menjatuhkan sanksi. Caranya dengan mengulur waktu. Ketentuan modal asuransi memang mengalami tarik ulur. Niat regulator untuk menaikkan modal, awalnya dituangkan dalam PP 63/1999. Perusahaan asuransi baru harus memiliki modal disetor minimum Rp100 miliar.

Revisinya dilakukan dalam PP 39/2008 tanggal 19 Mei 2008. Perusahaan asuransi harus memiliki modal disetor minimum sebesar Rp100 milir. Akibat protes dan demo oleh sebagian pelaku industri asuransi, aturan itu dirubah pada tanggal 31 Desember 2008. Melalui PP 81/2008, modal sendiri (bukan modal disetor) harus dipenuhi secara bertahap. Akhir tahun 2012 sebesar Rp70 miliar dan menjadi Rp100 miliar di akhir tahun 2014.

Penundaan melalui PP 81/2008 itu cukup bijaksana sebagai jalan tengah. Namun rencana penundaan (lagi), mengesankan ketentuan modal menjadi elastis.

Kebutuhan Modal Besar

Industri asuransi sebagai penanggung risiko, selayaknya tidak menjadi industri kelas UKM yang bermodal kecil. Meskipun telah ada paksaan menaikkan modal sendiri, namun pertumbuhan modal sendiri relatif tidak signifikan dibandingkan dengan parameter keuangan lainnya.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia/AAUI (2011), menginformasikan besarnya modal sendiri perusahaan asuransi umum di Indonesia pada tahun 2010 hanya meningkat 86,78% dibandingkan lima tahun sebelumnya (tahun 2006). Sedangkan pertumbuhan premi bruto sebesar 62,59%. Bahkan pertumbuhan aset lebih tinggi, yakni 93%.

Selain untuk pemenuhan modal sesuai ketentuan regulasi, ada beberapa alasan lain perusahaan asuransi perlu memperkuat modalnya. Dengan modal besar, kemampuan membayar klaim meningkat. Juga agar selalu memenuhi persyaratan risk based capital minimum 120% dan mempermudah melakukan ekspansi bisnis.

Manfaat lain modal besar adalah memenuhi persyaratan tertanggung (nasabah), memperbesar retensi sendiri, dan menaikkan retensi asuransi nasional. Dalam banyak hal, nasabah melihat kemampuan modal perusahan asuransi sebelum memilih. Bahkan untuk asuransi dengan nilai pertanggungan dan premi yang sangat besar, dalam persyaratan tender, terkadang nasabah mematok modal minimum.

Modal kecil akan membatasi perusahaan asuransi di dalam menahan risiko berkategori bagus. Sehingga akan lebih banyak mereasuransikan (mengasuransikan kembali ke perusahaan reasuransi). Data AAUI (2011), premi neto 20 perusahaan asuransi umum besar di Indonesia sebesar 54,06% dari premi bruto. Sisanya, 45,94% diterima oleh perusahaan reasuransi/asuransi lain.

Kepentingan Industri Asuransi Nasional

Bila kapasitas asuransi nasional terbatas karena terbatasnya modal sendiri, maka reasuransi akan banyak ke luar negeri. Artinya, premi banyak dibayar ke perusahaan reasuransi luar negeri. Hal ini lazim dalam industri asuransi dunia.

Parahnya, transaksi reasuransi Indonesia selalu defisit dengan reasuransi luar negeri. Dalam bahasa sederhana, premi yang dinikmati oleh perusahaan reasuransi luar negeri lebih besar daripada klaim yang dibayar perusahaan reasuransi luar negeri ke perusahaan asuransi nasional.

Defisit bahkan cenderung selalu meningkat. Secara berturut-turut dari tahun 2006 hingga 2010, defisit sebesar Rp3,82 triliun, Rp3,76 triliun, Rp5,04 triliun, Rp3,88 triliun, dan Rp4,71 triliun. Industri asuransi nasional hanya pernah surplus pada transaksi tahun 1999 sebagai efek klaim besar akibat huru-hara tahun1998.

Kenaikan modal adalah salah satu syarat mutlak untuk kemajuan industri asuransi nasional. Mengulur waktu pemenuhan modal sendiri hingga Maret 2012 diharapkan menjadi kebijakan elastis yang terakhir tentang modal. Sebaiknya regulator fokus bagaimana mendorong dan memfasilitasi perusahaan asuransi untuk dapat memenuhi aturan modal tersebut.

Menjadi ironi bila keinginan nasabah (seperti BP Migas) untuk menahan lebih banyak premi di dalam negeri, tak mampu dipenuhi oleh industri asuransi nasional. Tidak heran bila masih ada yang menyangsikan kemampuan asuransi nasional dalam menanggung risiko. Pelaku industri asuransi dan regulator menjadi kunci menaikkan kepercayaan masyarakat pada industri asuransi nasional.

*****