Tag

, , , , ,

Dimuat di Business News, 17 Juli 2007.

“The Best 20 Insurance Companies”, itulah judul yang diangkat majalah Investor edisi Juli 2007. Sedangkan dalam edisi khusus, Media Asuransi (d/h Proteksi) menurunkan fokus utama “Asuransi Terbaik 2007”. Tidak kalah dengan dua majalah tersebut, harian Bisnis Indonesia memberikan “Bisnis Indonesia Award 2007” untuk perusahaan asuransi terbaik pada akhir Juni lalu. Dan di awal Juli ini, majalah InfoBank merilis “Rating 130 Asuransi”.

Keempat mediamassaini bertolak dari sumber yang sama, yakni laporan keuangan publikasi perusahaan. Media Asuransi memeringkat 91 asuransi umum dan 41 asuransi jiwa. Sedangkan majalah Investor memeringkat 75 asuransi umum, 33 asuransi jiwa dan 4 reasuransi. Untuk BisnisIndonesia, telah memilih satu asuransi terbaik dari asuransi umum dan jiwa. Sementara InfoBank menilai 88 asuransi umum dan 42 asuransi jiwa.

Masyarakat tidak usah bingung jika mendapati hasil penilaian mediamassatersebut berbeda. Ini semua terjadi karena alat ukur atau kriteria penilaian yang digunakan oleh masing-masing media massa tidak sama. Perusahaan asuransi terbaik versi Investor, belum tentu terbaik versi Media Asuransi. Begitu juga sebaliknya terhadap media massa lainnya.

Namun demikian, jika perusahaan itu benar-benar sangat bagus, maka oleh media manapun tetap ditempatkan pada posisi atas. Ini terjadi pada Asuransi Adira Dinamika dan Prudential Life Assurance yang dinobatkan sebagai yang terbaik untuk kategori asuransi umum dan jiwa.

Tujuan media massa melakukan penilaian ini adalah ingin menyampakian hal yang benar yang mereka pahami dan memberikan apresiasi kepada industri asuransi. Bebas nilai alias tak ada pesan sponsor karena kriteria penilaian mereka diungkap ke publik. Bahkan, seringkali media massa menggunakan tim khusus dari berbagai kalangan yang ahli di bidang asuransi.

Menilai Sisi Positif

Pemeringkatan perusahaan adalah hal yang umum dilakukan oleh lembaga pemeringkat untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya dari sebuah perusahaan. Standard & Poor’s, Moody’s, AM. Best, atau Pefindo adalah sebagian nama lembaga pemeringkat. Sayangnya di Indonesia, hanya segelintir perusahaan asuransi yang diperingkat oleh lembaga rating.

Kajian yang mereka lakukan sangat komprehensif. Aspek-aspek yang dianalisis antara lain laporan keuangan beberapa tahun terakhir, country risks, perkembangan bisnis yang sedang berjalan dan proyeksi ke depan, struktur modal dan kepemilikan, bahkan ada yang sampai wawancara dengan manajemen.

Yang dilakukan oleh media massanasional bukan pemeringkatan dalam artian memberikan rating seperti yang dilakukan lembaga rating di atas, namun hanya sebatas memberikan penilaian/pemeringkatan berupa ranking.

Meskipun demikian, suguhan analisis yang dilakukan mediamassa, bisa memberi salah satu referensi masyarakat dalam memilih perusahaan asuransi yang tepat. Masyarakat mungkin ada yang bingung dalam memilih asuransi karena tawaran marketing asuransi kadang sangat menjanjikan. Dengan membaca hasil pemeringkatan mediamassaini, masyarakat akan mendapatkan informasi yang seimbang.

Tak pelak, penilaian media massa yang dipublikasikan ini pasti berdampak pada citra perusahaan di mata publik. Bagi perusahaan yang dinilai bagus, citranya akan terdongkrak. Bahkan tidak jarang, hasil penilain ini menjadi senjata ampuh marketing dalam menggaet calon tertanggung (pemegang polis).

Sebaliknya, perusahaan yang berada di posisi jeblok, tentu harus siap menjawab pertanyaan tertanggung, atau bahkan ditinggalkan karena diangap berkinerja buruk. Bagi yang dinilai jelek, tentu kurang arif jika perusahaan tersebut melakukan protes mengenai alat ukur yang dipakai. Yang harus dilakukan adalah membenahi kinerja agar bisa mendongkrak posisi untuk penilain tahun depan. Nah, di sinilah sisi positif penilaian media massa terhadap internal perusahaan asuransi.

Namun menilai bagus tidaknya perusahaan asuransi semata-mata dari penilaian media massaitu tentu kurang komprehensif. Penilaian yang dilakukan media massaini bersifat kuantitatif. Basis pengukuran didasarkan pada angka-angka laporan keuangan. Dengan demikian aspek lainnya tak tersentuh, misalnya sisi pelayanan, sumber daya manusia, praktek good corporate governance, back-up reasuransi, manajemen risiko, corporate social responsibility, dll.

Sebagai contoh, ada BUMN asuransi yang melaksanakan misi pemerintah dalam turut mendongkrak ekspor atau membantu perbankan dalam jaminan penyaluran kredit. Ini artinya, perusahaan tersebut tidak sebebas perusahaan lain yang hanya ditarget pertumbuhan dan profit sehingga dengan ‘mudah’ bisa merebut posisi bagus dalam penilaian mediamassa. Institusi semacam ini mempunyai misi yang harus juga dicapai. Hal seperti inilah yang tidak tersentuh dalam penilaian mediamassa.

Namun ini telah disadari oleh media massa bahwa penilaian mereka tidak bisa mencakup banyak aspek. Tidak mungkin memasukkan terlalu banyak kriteria penilaian sehingga kurang fokus. Secara kebetulan institusi lainnya juga memberikan penghargaan dalam kategori khusus misalnya pelayanan terbaik, kekuatan merek, dll.

Pemerintah berencana melakukan pemeringkatan perusahaan asuransi. Sembari menunggu niat pemerintah yang tak kunjung nongol, penilaian media massa bisa menjadi alternatifnya. Di luar negeri, perusahaan asuransi di-rating karena mengelola dana publik dan menerima pemindahan risiko dari masyarakat. Rating atau penilaian mediamassa ini harusnya mampu meningkatkan transparansi dan peningkatan kinerja di industri asuransi. Sehingga selayaknya industri asuransi berterima kasih pada mediamassa atas kepeduliannya.

***