Tag

, , ,

Dimuat di Koran KONTAN, 16 Maret 2012

Ada kabar bagus untuk industri asuransi nasional yang datang dari BP Migas. Porsi nilai pertanggungan untuk aset, sumur, dan liquefied natural gas (LNG) yang ditanggung konsorsium asuransi nasional (dalam negeri) ditingkatan (Kontan, 6 Maret 2012). Jika sebelumnya hanya 15%, untuk periode 2012-2014 menjadi 40%. Artinya porsi untuk reasuransi luar negeri berkurang menjadi 60%.

Sebagai gambaran, harga pertanggungan tahun lalu sekitar Rp258,66 triliun dengan premi Rp364,32 miliar. Tahun ini diprediksi naik, baik dari sisi harga pertanggungan, maupun total premi. Besaran ini belum termasuk untuk proyek konstruksi BP Migas.

Keputusan BP Migas tersebut sangat menarik. Sebagai tertanggung, BP Migas ternyata menyadari bahwa memperbesar porsi untuk asuransi nasional memberikan efek positif bagi perekonomian bangsa. Ini perlu diapresiasi.

Ada beberapa alasan mengapa pertanggungan kepentingan BP Migas (termasuk proyek konstruksi) banyak direasuransikan ke luar negeri selama ini. Selain kebutuhan spreading of risks, kapasitas kemampuan menahan risiko (retensi) nasional yang kecil, juga karena pengalaman asuransi nasional dalam menanggung risiko migas dianggap kurang. Juga ada persoalan tenaga ahli (SDM).

Porsi asuransi nasional memang seharusnya naik. Pengalaman dan tenaga ahli semakin bertambah. Selain itu juga disebabkan retensi lebih besar. Seperti diketahui bahwa ekuitas perusahaan asuransi harus naik karena regulasi. Pada akhir tahun ini, ekuitas minimal adalah Rp70 miliar. Akhir tahun 2014, seluruh perusahaan asuransi harus memiliki ekuitas minimal Rp100 miliar. Dengan retensi maksimal 10% dari ekuitas, maka retensi nasional meningkat.

Tidak hanya itu, keharusan menaikkan porsi asuransi nasional terkait kepentingan nasional. Setiap tahun, total transaksi reasuransi dengan luar negeri selalu defisit. Porsi pembayaran ke luar negeri lebih besar daripada pembayaran masuk ke Indonesia. Untuk itu, pembayaran ke luar negeri harus direm.

Sebagai gambaran, sejak tahun 2006-2010, defisit transaksi reasuransi secara berturut-turut sebesar Rp3,82 triliun, Rp3,76 triliun, Rp 5,04 triliun, Rp3,88 triliun, dan Rp 4,71 triliun. Tren defisit meningkat. Bila kapasitas nasional naik, maka dapat menghemat pembayaran premi reasuransi keluar negeri.

Bisnis Untung

Bisnis asuransi migas memang sebaiknya lebih banyak ditanggung asuransi dalam negeri. Selain alasan-alasan di atas, bisnis pertanggungan asuransi migas ini preminya naik dan menguntungkan. Data Bapepam-LK (2011) menyebutkan bahwa premi yang dihasilkan selama tahun 2006-2010 selalu naik. Berdasarkan data AAUI (2012), premi tahun 2011 (inaudited) untuk asuransi migas onshore dan offshore tercatat Rp1,12 triliun. Naik 34,58% dibandingkan dengan tahun 2010.

Bahkan hasil underwriting yang dihitung dari selisih antara premi neto dan klaim neto, selalu positif. Industri asuransi mendapat untung dari menjamin risiko migas. Sebagai contoh bahwa pada tahun 2010, hasil underwriting sebesar Rp118,41 miliar. Di tahun 2011, klaim bahkan lebih rendah lagi. Perbandingan klaim terhadap premi sebesar 18,89%. Sayang sekali bila keuntungan besar ini banyak dinikmati reasuransi luar negeri.

Menjenuhkan Kapasitas Nasional

Keinginan BP Migas menaikkan porsi asuransi nasional adalah momentum untuk membangkitkan industri asuransi migas nasional. Setidaknya ada tiga aspek yang dapat dilakukan pelaku industri asuransi umum nasional untuk mewujudkan hal tersebut.

Pertama, menjenuhkan kapasitas asuransi nasional. Berbagi kepada perusahaan yang tidak masuk menjadi konsorsium asuransi BP Migas dalam bentuk reasuransi. Bila kapasitas nasional sudah tidak mampu menampung, pilihannya adalah reasuransi ke luar negeri.

Selain konsorsium asuransi yang ditunjuk BP Migas, saat ini sudah ada Konsorsium Pengembangan Industri Asuransi Indonesia Minyak dan Gas Bumi (KPIAI Migas) yang juga menjamin risiko migas. Porsi yang ditangani KPIAI Migas masih kecil, masih dapat dioptimalkan dalam rangka menaikkan retensi nasional.

Catatan Bapepam-LK menyebutkan bahwa hanya 11 perusahaan asuransi yang membukukan premi asuransi migas di tahun 2010. Artinya, sebanyak 76 perusahaan asuransi tidak mendapat premi, baik untuk penutupan langsung maupun reasuransi (inward).

Kedua, efek dari berbagi tersebut akan memberikan pembelajaran sekaligus pendorong untuk meningkatkan kemampuan industri asuransi nasional dalam menanggung risiko migas. Untuk sementara, tak perlu khawatir persoalan kemampuan dan tenaga ahli perusahaan asuransi nonkonsorsium yang masih terbatas. Porsi mereka tidak besar. Juga dalam sistem reasuransi, ada kaidah follow the fortune alias mengikuti keputusan pemberi bisnis. Ketika mendapat bisnis asuransi migas, perusahaan yang belum punya pengalaman harus meningkatkan kemampuan dari sisi SDM.

Ketiga, perlunya perusahaan asuransi dan reasuransi terus menambah ekuitas agar retensi bisa naik. Total ekuitas perusahaan asuransi umum dan reasuransi tahun 2010 hanya sebesar Rp26,51 triliun. Tiap perusahaan semestinya tak cukup dengan nilai minimum ekuitas yang disyaratkan regulator. Berbagai cara menaikkan ekuitas perlu dilakukan. Salah satunya, memperbesar laba ditahan.

Akan menjadi ironi bila keinginan mengerem premi reasuransi ke luar negeri tidak mampu diimbangi dengan kenaikan retensi nasional secara signifikan. Retensi nasional yang naik, dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM, diharapkan akan mampu menggaet berkah asuransi migas. Saatnya industri asuransi nasional makin percaya diri menanggung risiko migas.

*****