Tag

, , , , , ,

Dimuat di harian Kontan,  Kontan, 16 November 2007.

Beberapa hari ini dan mungkin beberapa minggu ke depan, warga Jakarta dihadapkan dua persoalan klasik, banjir dan macet. Bulan Februari lalu banjir besar melanda dan ibukotadiprediksi akan tetap tergenang musim hujan kali ini. Sementara itu, kemacetan jalan sudah sampai taraf lumpuh.

Kerugian akibat macet di Jakarta diperkirakan mencapai Rp 43 triliun dalam satu tahun (Kompas, 5 November 2007). Sedangkan menurut data Bappenas, kerugian akibat banjir di Jabodetabek pada Februari lalu sebesar Rp 8,8 triliun. Padahal tiap tahun kedua masalah ini berulang. Ini berarti besarnya kerugian bisa akumulatif.

Salah satu cara memecahkan persoalan kemacetan adalah dengan pola transportasi makro. TransJakarta sudah beroperasi. Monorel butuh dana sekitar US$ 480 juta. Sedangkan untuk mengatasi banjir dengan menormalisasi drainase, butuh Rp 1,2 triliun. Mungkin juga perlu terowongan deep tunnel sewerage system (DTSS) yang berdana Rp 16,3 triliun.

Berbagai upaya lain yang lebih tepat, bisa saja dilakukan. Tapi tetap saja butuh dana besar. Dari hitung-hitungan di atas, cara keluar dari masalahJakartaini jauh lebih kecil dibandingkan angka kerugian tahunan. Padahal angka kerugian banjir dan macet di atas belum memasukkan faktor jiwa yang tewas atau penderitaan bagi yang hidup. Harga nyawa dan penderitaan tak bisa nilai dalam angka-angka.

Perubahan Paradigma

Mengatasi masalah banjir dan macet Jakarta, sudah ada ahli di bidangnya. Macetnya implementasi penyelesaian banjir dan macet Jakarta, mungkin karena tak adanya dana. Namun ada persoalan yang lebih serius, yakni tak adanya implementasi manajemen risiko terintegrasi. Manajemen risiko terintegrasi telah terbukti menjadi senjata ampuh untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Di sektor pemerintahan juga butuh perubahan paradigma dalam pembangunan dan dalam menghadapi risiko bencana. Perubahan paradigma yang dimaksud adalah perubahan kerangka berpikir bahwa setiap kebijakan atau keputusan yang diambil pasti ada risikonya. Banjir dan macet adalah sebuah risiko akibat kebijakan yang salah tentang tatakotadan lingkungan.

Paradigma manajemen risiko sangat dibutuhkan dalam berbagai aktifitas, baik dalam perusahaan, pemerintahan, termasuk aktifitas individual. Secara umum, manajemen risiko memiliki tahapan identifikasi risiko, analisa risiko, dan kontrol risiko.

Analisa mengenai dampak lingkungan (amdal) yang menjadi syarat dari pembangunan hanyalah salah satu bentuk aktifitas analisa risiko. Tidak hanya amdal yang dibutuhkan, tetapi kajian yang lebih komprehensif mengenai kemungkinan terjadinya kerugian (likelihood) dan besarnya dampak jika kerugian terjadi (severity).

Dalam kasusJakartamisalnya, mandeknya pembangunan banjir kanal timur dan terkikisnya lahan resapan air, seharusnya sudah diperhitungkan secara matang dampaknya. Begitu juga dampak negatif pesatnya pertumbuhan kendaraan pribadi dan efek dari tersendatnya program pola transportasi makro.

Dengan kajian likelihood dan severity, maka jelas terpampang apa yang harus dilakukan agar risiko tidak berdampak buruk. Tahap kontrol risiko harus berorientasi pada cara berpikir bahwa suatu risiko jika tidak mampu dikontrol, dampaknya akan sangat buruk. Sumberdaya yang dibutuhkan untuk kontrol risiko jauh lebih kecil dibandingkan dampak buruk yang akan timbul. Dalam bahasa umum, pencegahan jauh lebih baik dari pada menanggulangi.

Tambal sulamnya kebijakan Pemda Jakarta dan kurang seriusnya dukungan pemerintah pusat, menjadikan kita terus-menerus menghitung kerugian akibat banjir dan macet. Ini terjadi karena manajemen risiko belum menjadi paradigma dalam setiap kebijakan yang diambil.

Internalisasi Dini

Kondisi banjir dan macet Jakarta diperparah dengan perilaku warganya. Kebiasaan buang sampah sembarangan atau tidak tertib di jalan hanyalah sedikit contoh. Untuk itu diperlukan suatu upaya menanamkan paradigma namajemen risiko di semua tingkatan. Cara yang bisa dilakukan adalah internalisasi paradigma ini sejak dini kepada anak-anak.

Sejak kecil dipahamkan bahwa setiap tindakan ada risikonya. Ada pengenalan risk awareness sejak dini. Untuk itu, sebisa mungkin yang harus dilakukan ketika menghadapi risiko adalah menghilangkan atau menghindari risiko. Cara lain adalah mereduksi risiko, memindahkan risiko, atau menahan risiko. Jika dampak risiko kecil, maka risiko bisa ditahan. Keempat hal ini adalah metode kontrol risiko.

Suatu peristiwa atau bencana kadang tidak bisa dihindari. Maka yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan derajat kemungkinan terjadinya dan/atau mereduksi dampaknya. Dalam kasus bajir dan macet, upaya-upaya Pemda Jakarta yang diuraikan di atas dapat mereduksi dampak risiko.

Pemahaman manajemen risiko sejak dini adalah investasi jangka panjang. Inilah yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam kampanye reduksi bencana 2006-2007 yang mengambil tema “Disaster Risk Reduction Begins at School”. Mencontoh upaya PBB ini,Indonesia bisa melakukan hal serupa, yakni internalisasi pemahaman manajemen risiko di sekolah.

Manajemen risiko memiliki cakupan lebih luas dibandingkan mereduksi bencana. Bukan saja dampaknya memberikan rasa kesiapan dalam setiap bencana, namun mampu memberikan efek masif terhadap perilaku untuk menghindari dan mereduksi datangnya kerugian.

Internalisasi di sekolah akan sangat kondusif untuk menciptakan nilai kolektif dan membentuk lingkungan yang sadar risiko. Memahamkan kepada anak-anak bak menabur benih yang hasilnya dipetik di masa mendatang. Anak-anak adalah generasi masa depan yang diharapkan mengimplementasikan paradigma manajemen risiko.

Jika kelak menjadi pemimpin, maka dalam setiap kebijakan yang diambil telah menimbang risikonya. Kalaupun nantinya “hanya” sebagai warga kebanyakan, tetap mampu berperilaku bersih, tertib, teratur dan perilaku positif lainnya karena setiap perilaku negatif telah dipahami akan ada dampak buruknya.

Banjir dan kemacetanJakartabiarlah menjadi persoalan saat ini, namun tetap harus ditanggulangi. Tapi Jakarta masa depan harus menjadi ibukota yang bebas banjir dan macet. Kelak, Jakarta seharusnya diurus dan dihuni oleh mereka yang telah mengimplementasikan manajemen risiko.