Tag

, , , ,

Dimuat di Koran Bisnis Indonesia, 10 Februari 2012

Krisis ekonomi masih membayangi dunia di tahun ini. Meskipun bakal berdampak pada ekspor Indonesia, namun target ekspor tahun 2012 dipatok lebih besar daripada tahun lalu, sebesar US$230 miliar. Pada tahun 2011, nilai ekspor mencapai US$203,62 miliar, melampaui target sebesar US$200 miliar. Porsi ekspor nonmigas sebesar US$162,02 miliar atau naik 24,88%.

Tahun ini pemerintah menyasar pasar nontradisional yakni negara Eropa Timur, Timur Tengah, Amerika Selatan dan Afrika. Artinya, ada pasar alternatif yang ingin digapai. Saat ini, negara tujuan ekspor masih didominasi China, Jepang, AS, negara-negara ASEAN dan Eropa.

Pastinya, dengan tantangan berat di tahun ini, pemerintah harus menyiapkan jurus-jurus untuk mengamankan target ekspor. Dengan melihat banyaknya potensi ekspor, baik kemampuan produksi barang ekspor maupun tersedianya pasar, maka jangan sampai ekspor terhalang akibat persoalan pembiayaan dan kekhawatiran ekspor tak terbayar.

Menurut Singh (2010), sekitar 90% transaksi perdagangan dunia melibatkan kredit, asuransi, dan penjaminan. Perbankan, asuransi, dan export credit agency (ECA) menjadi pemain kunci. Inilah yang akan mengatasi persoalan ketidakadanya pembiayaan dan kekhawatiran risiko eksportir.

ECA didirikan oleh pemerintahan suatu negara dalam rangka mendongkrak ekspor dan meningkatkan penetrasi pasar. Institusi yang bermula dari Inggris tahun 1919 ini menjamin asuransi atas risiko politik dan komersial yang dihadapi eksportir. Risiko-risiko tersebut tidak dapat dijamin oleh asuransi swasta. Fungsinya sebagai insurer of last resort yang sepenuhnya didukung oleh negara. Kini peran ECA melebar menjadi institusi finansial global (Ascari, 2007).

Di banyak negara telah didirikan ECA yang melaksanakan peran pembiayaan, asuransi, atau jaminan ekspor. Ada yang menjalankan ketiga peran tersebut oleh satu institusi. Namun banyak juga yang memisahkan fungsi pembiayaan dan fungsi asuransi/penjaminan.

Di Indonesia, eksportir banyak terbantu dengan pembiayaan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank. Selama tahun 2011, LPEI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp20,58 triliun atau naik 30,79% dibandingkan tahun 2010. Nilai ini memang masih belum besar dibandingkan dengan total nilai ekspor tahun 2011. Ini artinya, peluang pembiayaan oleh LPEI ke depan sangat besar.

Dari sisi asuransi dan penjaminan ekspor, telah dilakukan lama oleh sebuah perusahaan BUMN, PT. Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI). Sejak lebih dari 26 tahun lalu, institusi tersebut berperan menanggung risiko politik dan komersial ekspor nonmigas. Bahkan ASEI telah menjadi anggota Berne Union, organisasi asuransi kredit dan investasi dunia.

Besarnya total eksposur di akhir tahun 2010 yang dijamin oleh anggota Berne Union di seluruh dunia sebesar US$1.430.710 juta. Ada kenaikan 4,96% dibandingkan tahun 2010. Jaminan asuransi untuk kredit ekspor jangka pendek masih mendominasi yakni 52%. Selebihnya adalah kredit jangka menengah/panjang sekitar 36% dan kredit investasi sekitar 11%.

Optimalisasi ECA

Dengan variasi negara tujuan ekspor, maka eksportir memiliki alternatif mereduksi dampak krisis global. Namun penetrasi ke pasar baru, ada risikonya. Ada risiko ekspor tidak terbayar sehingga eksportir menanggung rugi. Di sinilah peran ECA sangat besar.

Bila pasar ekspor telah ada, maka tidak perlu lagi ada kekhawatiran ekspor tidak terbayar. Peran ECA membuat keberanian ekportir mengeksplorasi pasar baru menjadi besar. ECA dapat mendampingi eksportir di dalam mencari peluang pasar baru.

Eksplorasi pasar dapat dilakukan dengan melonggarkan persyaratan pembayaran untuk importir. Transaksi perdagangan non-L/C seperti open account yang lebih berisiko bagi eksportir, dapat ditawarkan ke importir. Transaksi non-L/C yang lebih kompetitif menjadi daya tarik importir. Bagaimana dengan risikonya? Tugas ECA menjamin risiko tersebut.

Sementara itu, melalui pembiayaan, eksportir memiliki modal di dalam memproduksi barang untuk tujuan ekspor. Peran LPEI diharapkan lebih agresif didalam memberikan pembiayaan ekspor. Juga bank umum dapat berperan besar di dalam memberikan dukungan.

Pembiayaan ekspor oleh perbankan dapat melibatkan ECA. Dengan adanya ECA, pembiayaan bank, baik dalam pre-shipment dan post-shipment financing, dapat dilakukan dengan lebih terproteksi. Risiko pembiayaan dapat diturunkan dengan adanya penjaminan dari ECA. Melalui penjaminan ini seharusnya mampu mendorong bank lebih berani memberikan kredit ekspor.

Eksportir yang membutuhkan dana cepat, dapat melakukan diskonto wesel ekspor ke bank. Bagi bank yang memegang tagihan ekspor, ada risiko tidak dibayar oleh importir. Namun kekhawatiran tersebut dapat dieliminasi karena dapat dijamin oleh ECA melalui produk export bill insurance.

Bila sudah ada institusi yang membiayai ekspor dan ada penjaminnya, termasuk ada asuransi yang menjamin tidak terbayarnya ekspor, kenapa ekspor belum terdongkrak tajam? Faktor eksportir, yakni kemampuan dalam memproduksi barang mungkin ada. Juga kemampuan eksplorasi pasar.

Namun peran institusi keuangan, baik instutusi pembiayaan dan asuransi, harus optimal. Jangan sampai potensi besar dalam mendongkrak ekspor melalui ECA tidak banyak diketahui oleh eksportir maupun institusi keuangan, khususnya perbankan. Yang pasti, kekhawatiran ekportir maupun perbankan seharusnya banyak tereduksi.

Untuk eksplorasi pasar baru, eksportir dan perbankan tak perlu ada kekhawatiran berlebihan. Tantangannya sekarang adalah melakukan sosialisasi terus-menerus fungsi ECA kepada eksportir dan perbankan. Selanjutnya adalah bagaimana institusi yang berperan sebagai ECA tersebut benar-benar dapat dipercaya memberikan proteksi bagi eksportir dan perbankan.

*****