Tag

, , , , , ,

Dimuat di Bisnis Indonesia, 2 Februari 2007.

Bayang-bayang kenaikan premi reasuransi 2007 tidak terbukti. Ini tentu kabar baik. Sebelumnya, diperkirakan ada kenaikan sekitar 15% untuk premi perjanjian reasuransi otomatis (treaty).

Mayoritas perusahaan asuransi umum telah merampungkan treaty-nya dengan perusahaan reasuransi (reasuradur) lokal maupun luar negeri pada akhir Desember 2006.

Minimum deposit untuk treaty nonproporsional bervariasi. Sebagian ada yang tetap (flat), ada yang naik sedikit karena loss record jelek, tetapi ada yang turun hingga 10%.

Untuk perjanjian reasuransi secara fakultatif, besar kecilnya mengikuti mekanisme pasar. Pada 2007 ini, diprediksi tarif premi tetap turun karena persaingan yang sengit.

Broker Willis menerbitkan laporan premi reasuransi untuk Asia,Australia, Amerika Latin, sebagian besar Eropa dan Amerika (kecuali wilayah bencana), premi perpanjangan reasuransi tetap, bahkan ada yang turun 5%-10%.

Fluktuasi kerugian

Kondisi pasar reasuransi yang menggembirakan ini karena total kerugian asuransi katastropik dunia 2006 hanya US$15 miliar. Hasil kajian sementara Swiss Re menyatakan kerugian ini melorot tajam dibandingkan 2005 sebesar US$83 miliar.

Pada 2006, wajar apabila tarif premi reasuransi naik. Ini imbas premi luar negeri yang melonjak. Penyebabnya adalah reasuradur luar negeri harus memperoleh recovery setelah menderita kerugian katastropik yang sangat besar pada 2005.

Badai Katrina, Wilma, dan Rita di Amerika dan sekitarnya yang terjadi antara rentang Agustus hingga Oktober 2005, mencapai kerugian US$65 miliar. Ini kerugian asuransi terbesar sejak tahun 1970 akibat bencana alam. Tentu saja kerugian besar ini menggerus keuntungan reasuradur.

Kenaikan premi dilakukan reasuradur untuk menyeimbangkan kembali bisnisnya. Dari data Guy Carpenter & Company menunjukkan, akibat badai Andrew 1992 di Amerika dengan kerugian lebih dari US$22 miliar, menyebabkan premi reasuransi katastropik naik pada 1993. Sebaliknya, kerugian akibat bencana alam (natural catastrophe) dan ulah manusia (man-made disaster) yang kecil pada 1993, tarif premi reasuransi dunia melorot pada 1994.

Hal ini berulang pada 2001 ketika tragedi WTC New York menelan kerugian nyaris US$21 miliar. Efeknya, pada 2002, premi reasuransi dunia terkerek naik. Pada 2002 dan 2003 hampir tidak ada kerugian besar yang menonjol di dunia asuransi. Tidak heran jika premi reasuransi katastropik turun pada 2004.

Efek global

Tiap tahun, neraca pembayaran asuransi nasional selalu defisit. Artinya, premi yang kita bayar ke luar negeri lebih besar dari pada jumlah klaim diIndonesia. Kabar baik mencuat untuk 2005 karena defisit neraca pembayaran ‘hanya’ sebesar Rp2,68 triliun Ini berarti turun sekitar 28% dibandingkan 2004 yang mencapai Rp3,76 triliun.

Banyaknya premi yang terbang ke luar negeri karena kapasitas menanggung risiko di dalam negeri masih sangat kecil sehingga butuh back-up luar negeri. Kecilnya retensi dalam negeri ini karena aspek permodalan perusahaan asuransi yang masih cekak. Syarat modal disetor minimal Rp100 miliar masih menjadi mimpi untuk beberapa tahun ke depan.

Kecilnya kapasitas juga diakibatkan karena perilaku perusahaan asuransi yang tidak mau memanfaatkan kapasitas dalam negeri secara maksimal, misalnya dengan cara koasuransi, pool, atau bentuk konsorsium.

Jika ada nilai pertanggungan besar, sebagian perusahaan asuransi masih lebih senang mereasuransikan ke luar negeri daripada mengajak asuransi lokal untuk menutup risiko secara bersama-sama.

Jika ketergantungan pada luar negeri tidak terlalu tinggi, maka asuransiIndonesiabisa menghemat premi. Deretan kerugian katastropik banyak terjadi di luar negeri.

Di Indonesia meskipun sering terjadi bencana, tetapi kerugian industri asuransi masih kecil. Gempa di Aceh yang menelan ratusan ribu jiwa misalnya, kerugian asuransi jauh lebih kecil dibandingkan bencana yang sering terjadi di Amerika Serikat.

Kajian sementara Munich Re dan Swiss Re untuk 2006 juga menunjukkan hal serupa. Dari deretan enam besar kerugian asuransi 2006,limakali peristiwanya terjadi di Amerika akibat badai, topan dan banjir.

Meskipun gempa di Yogyakarta menempati peringkat pertama untuk jumlah korban jiwa (5.778 orang), namun kerugian asuransi tidak signifikan.

Kerugian akibat bencana di Indonesia tidak serta-merta melambungkan kerugian asuransi. Penyebabnya adalah masyarakat Indonesia jarang mengasuransikan harta benda maupun jiwanya.

Berbeda dengan luar negeri, jika korban jiwa besar, maka bisa dipastikan bahwa kerugian asuransi juga sangat besar. Lihat saja, tragedi WTC New York dengan korban kurang dari 3.000 jiwa, kerugian asuransi mencapai hampir US$21 miliar.

Dampak kerugian asuransi katastropik di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan negara maju dengan masyarakatnya yang sudah sadar asuransi.

Dengan demikian, ketika premi reasuransi global naik, tidak seharusnya dipukul rata juga dikenakan untukIndonesia.

Asuransi nasional pasti sangat dipengaruhi perubahan asuransi dunia.

Namun, seharusnya tipikal asuransi di Indonesia seperti diuraikan di atas harus bisa dijelaskan kepada reasuradur luar negeri. Ini supaya asuransi nasional tidak selalu menjadi ‘donatur’ reasuransi dunia jika mereka rugi besar.

Pada 2007, berdasarkan prediksi World Economic Forum dalam laporan Global Risks 2007 yang dirilis awal Januari ini memperingatkan adanya 23 jenis ancaman risiko utama di dunia. Prediksi hingga sepuluh tahun ke depan ini bisa saja terjadi dan dampaknya nanti sangat memengaruhi pasar reasuransi dunia.

Kerugian besar reasuransi luar negeri,Indonesia selalu terkena imbasnya. Padahal di sisi lain, industri asuransi Indonesia terus dipaksa menurunkan tarif preminya karena persaingan.

Jika seperti ini, perusahaan asuransi berada dalam himpitan antara kenaikan premi reasuransi dan tuntutan penurunan tarif premi oleh tertanggung.

Ini jelas tidak sehat. Apabila berlangsung terus-menerus, bisa merontokkan industri asuransi itu sendiri. Sekarang kembali pada pelaku asuransi bagaimana membangun industri asuransi yang sehat, menguntungkan, dan berperan lebih besar untuk bangsa.