Tag

, , , , ,

Dimuat di Kompas, 25 Oktober 2007.

Pemanasan global telah lama menjadi sorotan utama masyarakat dunia. Bahkan, hadiah Nobel Perdamaian tahun ini dianugerahkan kepada Al Gore (mantan WakilPresiden AS) dan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC), yang getol mengampanyekan kesadaran dampak pemanasan global.

Profesor Kerry Emanuel, ahli meteorologi di Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, berpendapat, badai juga meningkat akibat pemanasan global. Selain karena kerakusan manusia dalam membabat hutan dan tidak becusnya menata kawasan, banjir di banyak wilayah diperparah pemanasan global.

Intinya, risiko yang dihadapi manusia naik tajam. Tidak hanya mengarah pada kerusakan harta benda atau lingkungan, tetapi juga mengancam jiwa manusia.

Dampak kerugian ekonomi dan korban jiwa akibat pemanasan global diprediksi akan naik. Semua pihak harus menyatakan perang melawan pemanasan global dengan perannya masing-masing. Industri transportasi, ahli pertanian, aktivis lingkungan, pemerintah, hingga tiap individu harus mengerem peningkatan pemanasan global.

Secara teori, jika suatu risiko tidak mungkin dihindari atau diturunkan dampaknya, alternatifnya mengalihkan dan mendistribusikannya kepada pihak lain agar beban terasa lebih ringan. Asuransi bisa menjadi salah satu solusinya.

Pendekatan penanganan bencana dengan pendanaan pascabencana harus diubah. Industri atau perseorangan sebaiknya tidak lagi merogoh kocek setelah bencana karena belum tentu ada dana cukup. Persiapan pendanaan sejak awal bisa dilakukan melalui skema asuransi. Bahkan untuk suatu dampak katastropik dengan kerugian besar, dengan akumulasi premi di industri asuransi, pemulihan pascabencana akan lebih cepat dilakukan.

Industri asuransi selama ini terbukti berperan meringankan mereka yang terkena bencana, seperti gempa bumi dan banjir. Namun, tidak semua orang, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah, mempunyai polis asuransi. Ketika bencana datang, mereka harus mendanai sendiri atau menunggu bantuan pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat.

Kesadaran pentingnya asuransi di tengah ancaman pemanasan global perlu terus dikampanyekan. Masyarakat harus diingatkan untuk tidak mengharap bantuan pihak lain jika bencana datang, tetapi sedini mungkin berupaya secara swadaya, salah satunya dengan membeli polis asuransi.

Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan industri asuransi dalam mengantisipasi dampak pemanasan global. Ketika kerugian besar timbul, belum tentu dana APBN cukup untuk rehabilitasi. Sebagai tempat pengumpulan dana, industri asuransi bisa mengambil alih risiko. Jika timbul kerugian, pemerintah berkewajiban mengucurkan bantuan.

Siapkah Indonesia?

Kerugian besar asuransi di dunia mayoritas karena bencana katastropik, khususnya badai (tabel). Dari 20 besar kerugian sejak tahun 1970-2006, sebanyak 18 di antaranya akibat iklim (badai atau topan).

Amukan badai Katrina menempati peringkat pertama dengan total kerugian asuransi senilai 66,31 miliar dollar AS. Data lengkap Swiss Re menunjukkan kerugian asuransi akibat bencana katastropik cenderung meningkat terus. Kerugian ekonomi bisa dipastikan jauh lebih besar.

Meskipun kerugian sebagian besar terjadi di AS, tidak berarti badai ganas tidak akan memorakporandakan Indonesia. Jakarta tahun 2007 telah merasakan banjir besar yang sebagian besar akibat ulah manusia.

Industri asuransi jelas akan menghadapi kenaikan eksposur risiko. Di semua lini asuransi harus siap-siap menghadapi membengkaknya klaim jika tidak ditangani secara tepat.

Risiko banjir dan/atau badai akan mampu menaikkan klaim pada lini asuransi harta benda, asuransi rekayasa, asuransi kendaraan bermotor, asuransi pengangkutan, asuransi rangka kapal, dan jenis asuransi lainnya. Belum lagi korban manusia, baik cedera badan, tewas atau karena merebaknya penyakit yang bisa mengerek klaim asuransi kecelakaan diri, asuransi jiwa, maupun asuransi kesehatan.

Pelaku asuransi Indonesia bukannya tidak sadar akan naiknya risiko bencana. Dalam “14th Indonesia Rendezvous 2007″ yang bakal digelar di Bali, mengambil tema “Are we prepared to face the global warming resulting in greater severty of catastrophe?”. Namun, apakah industri asuransi telah melakukan langkah antisipatif? Industri asuransi memang terbiasa menangani bencana, tetapi perlu diwaspadai akibat pemanasan global dapat melipatgandakan klaim.

Berbagai persoalan internal industri asuransi Indonesia butuh segera diatasi dalam menghadapi pemanasan global. Pertama, dari sisi kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga underwriter dan claim adjuster. Diperlukan program pendidikan untuk mengatrol pemahaman tentang manajemen risiko katastropik.

Pemahaman komprehensif tentang dampak pemanasan global akan sangat berpengaruh pada upaya mereduksi klaim asuransi. Underwriter dapat memberikan rekomendasi kepada tertanggung agar melakukan upaya-upaya preventif. Rekomendasi seperti itu tidak hanya menguntungkan perusahaan asuransi, tetapi juga tertanggung karena bisa terhindar dari kerugian.

Kedua, dari pemahaman naiknya risiko akibat pemanasan global, maka perusahaan asuransi seharusnya menetapkan tarif premi yang seimbang dengan risikonya. Salah satu penyakit industri asuransi umum Indonesia adalah perang tarif. Masing-masing menawarkan tarif terendah dalam menggaet tertanggung.

Tarif asuransi, seperti asuransi harta benda, sangat rendah dan tidak sesuai dengan risikonya. Sedangkan deductible (risiko sendiri) juga kecil. Misalnya, deductible risiko banjir dan badai yang umumnya hanya 10 persen dari kerugian.

Dengan ancaman naiknya risiko, industri asuransi harusnya berpikir untuk kembali ke “khitah”, yakni menerapkan tarif premi seimbang dengan risikonya. Jika risikonya tinggi, tarif juga tinggi, begitu pula sebaliknya.

Ketiga, belum adanya dukungan teknologi informasi (TI) yang memadai. Ancaman pemanasan global sangat berpengaruh pada klaim-klaim katastropik. Di negara-negara maju, industri asuransi didukung piranti catastrophe modelling.

Dengan pemodelan komputer, eksposur klaim akan diketahui. Perusahaan asuransi dapat merancang penetapan retensi, program reasuransi, serta estimasi besarnya klaim yang bakal terjadi. Tentu saja ini sangat membantu dalam penentuan tarif premi, penetapan deductibe, maupun limit of liability asuransi secara lebih akurat. Catastrophe modelling sangat berguna dalam menghindari klaim di luar kemampuan perusahaan asuransi. Tanpa dukungan TI, kebanyakan underwriter menggunakan data seadanya dan “meraba” dalam penilaian risiko.

Menghadapi ancaman pemanasan global dibutuhkan perubahan paradigma manajemen asuransi. Program sistematis peningkatan kualitas sumber daya manusia, komitmen untuk mengakhiri perang tarif, dan investasi di bidang TI seharusnya menjadi program nyata. Ketika ancaman risiko naik drastis, seharusnya cara mengelola risiko juga berubah radikal. Jika tidak, pemanasan global bukan hanya merusak alam dan mengancam manusia, dalam skala lebih mikro, akan mengancam industri asuransi.