Tag

, , , , , , ,

Dimuat di koran KONTAN, 19 Desember 2011

Krisis ekonomi Eropa dan Amerika membayangi kinerja industri asuransi dunia. Bahkan industri asuransi dunia sudah terkena dampak langsung dari klaim besar. Hingga pertengahan tahun 2011 ini, berdasarkan data NatCat Service, ada 355 peristiwa bencana yang mencetak klaim besar.

Total kerugian ekonomi akibat bencana tersebut sebesar US$265 miliar dan kerugian asuransi mencapai US$60 miliar. Kerugian ini sudah lebih dari dua kali lipat kerugian di tahun 2010 untuk periode yang sama atau lebih dari empat kali rata-rata kerugian sepanjang 10 tahun terakhir (iii, 2011). Penyumbang klaim asuransi terbesar berasal dari gempa dan tsunami Jepang, badai di AS dan Karibia, gempa bumi di Selandia Baru, serta badai dan banjir di Australia.

Klaim besar mempengaruhi profitabilitas, kapital, dan kapasitas risiko perusahaan penanggung ulang (reasuransi). Akibat dari klaim besar, kapasitas reasuransi global dalam menanggung risiko dapat menyusut karena perusahaan reasuransi mengetatkan underwriting (seleksi risiko).

Dampaknya berupa ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Perusahaan reasuransi lebih selektif. Kondisi seperti ini, yang dikombinasikan dengan kebutuhan reasuransi untuk recovery akibat klaim besar, serta adanya pengaruh kondisi ekonomi dunia, mempengaruhi siklus underwriting (Meier & Outreville, 2003).

Siklus underwriting menjelma dalam soft market dan hard market. Kondisi soft market ditandai dengan premi yang lebih rendah. Sedangkan kondisi hard market dicirikan dengan premi yang naik dan menyusutnya kapasitas reasuransi. Guy Carpenter mencatat terjadi kenaikan tarif reasuransi global pada perpanjangan reasuransi otomatis pada 1 Juli 2011 sekitar 10% untuk risiko katastropik. Kondisi ini diprediksi berlanjut pada perpanjangan reasuransi 2012 yang umumnya negosiasi dilakukan pada akhir tahun ini.

Efek di Indonesia

Indonesia terkena efek apa yang terjadi pada reasuransi global. Hal ini terjadi karena banyaknya porsi risiko yang ditanggung reasuransi global. Kemampuan menahan risiko industri asuransi umum nasional masih kecil yang terutama akibat modal yang masih terbatas.

Bila perusahaan asuransi nasional membeli kapasitas risiko reasuransi global dengan harga naik, maka sangat mungkin akan menaikkan tarif premi untuk tertanggung (nasabah asuransi).

Kenaikan tarif reasuransi global dapat terjadi pada lini bisnis asuransi harta benda (properti) atau risiko katastropik karena klaim besar dunia lebih banyak di linis bisnis ini. Namun demikian, ancaman kenaikan tarif reasuransi global ini dapat dinetralisir dengan empat argumentasi. Kalaupun terjadi kenaikan premi reasuransi global, maka tidak harus menimpa tertanggung.

Pertama, bencana dan klaim besar hingga pertengahan Juni 2011 tidak terjadi di Indonesia. Sepanjang tahun 2011 ini, prosentase klaim asuransi terbesar terjadi di Jepang 49%, AS 29%, dan Selandia Baru 21% (iii, 2011). Data Swiss Re (2011) sejak tahun 1970, klaim besar asuransi banyak terjadi di negara-negara maju, bukan di negara berkembang.

Keadaan ini dapat dijelaskan kepada perusahaan reasuransi luar negeri bahwa di Indonesia tidak memberikan kontribusi klaim yang besar sehingga tidak harus ikut terkena dampak secara signifikan. Apalagi selama ini, kecuali pada tahun 1999, transaksi industri asuransi nasional dengan reasuransi global selalu mengalami defisit. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa premi yang dibayarkan kepada reasuransi global lebih besar daripada pembayaran klaim reasuransi global ke Indonesia.

Kedua, bila hasil underwriting masing-masing perusahaan asuransi umum di Indonesia bagus sepanjang tahun 2011, maka perusahaan asuransi tersebut dapat menuntut untuk tidak dikenakan kenaikan premi reasuransi. Bahkan dapat mendesak diberi kompensasi berupa penurunan premi, perluasan jaminan, profit commission, atau lainnya.

Meskipun ada keterkaitan erat dengan reasuransi global, tetap menjadi ironi bila industri asuransi umum nasional yang berkontribusi profit pada reasuransi global juga terkena dampak secara signifikan.

Ketiga, prediksi kenaikan tarif ada di lini asuransi properti saja. Sedangkan penyumbang premi terbesar di asuransi umum nasional tahun 2010 adalah asuransi kendaraan bermotor (29,41%), disusul asuransi properti di peringkat kedua (28,25%) dari total premi asuransi umum nasional (AAUI, 2011). Ini artinya lini bisnis asuransi lainnya tidak harus ikut-ikutan terkena dampaknya.

Keempat, ada persaingan ketat di industri asuransi umum nasional. Tidak mudah untuk menaikkan tarif karena tertanggung sensitif terhadap harga. Apalagi bila tertanggung punya rekam jejak klaim yang bagus, maka memiliki posisi tawar yang kuat. Dengan switching costs yang rendah, tertanggung dengan mudah pindah ke perusahaan asuransi lainnya.

Antisipasi Naiknya Tren Bencana

Bencana alam (natural catastrophe) maupun akibat manusia (man-made catastrophe) yang mengerek klaim asuransi memiliki kecenderungan naik. Baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain, ancaman klaim industri asuransi setiap tahunnya juga akan naik.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, agar perusahaan asuransi umum tetap meraih pertumbuhan dan profitabilitas, perlu peningkatan kehati-hatian dalam seleksi risiko, efisiensi biaya operasional, memperbanyak portofolio jenis produk asuransi, dan meningkatkan hasil investasi.

*****