Tag

, , , , ,

Dimuat di harian Kontan, 12 Desember 2007.

Nada optimis di tahun 2008 kini menggelayut dalam benak pelaku industri asuransi umum. Beberapa tahun terakhir, optimisme seolah hanya milik pelaku industri asuransi jiwa. Pasalnya, belakangan ini pertumbuhan premi asuransi umum sangat seret. Beda dengan asuransi jiwa yang selalu tumbuh di atas 20%.

Data Media Asuransi, dari 91 asuransi umum di tahun 2006, hanya mengumpulkan premi Rp 15,5 triliun atau naik 3,14% dibanding tahun sebelumnya. Beda dengan asurasi jiwa, dari 43 perusahaan, mampu meraup Rp 27,44 triliun atau naik hampir 23%. Bahkan tahun ini, asuransi jiwa optimis meraih kenaikan 30%.

Optimisme pelaku asuransi umum bukan karena sudah bisa mengatasi problem utama yakni perang tarif premi alias banting harga. Tetapi semata-mata tertolong oleh pemerintah pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan nomor 74/PMK.010/2007 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor.

PMK 74/2007 ini berisi referensi tarif yang harus dipatuhi oleh perusahaan asuransi umum yang tidak punya data profil risiko dan kerugian selamalimatahun. Tarif ini lebih besar dari tarif yang beredar di pasar. Perang tarif bakal terkikis dan premi asuransi (kendaraan) akan terdongkrak.

Tahun 2008 adalah masa-masa ujian bagi industri asuransi umum. Meskipun sudah ada kesepakatan seluruh perusahaan asuransi bakal tunduk pada PMK ini, tapi perlu bukti. Jika industri asuransi umum mampu bertahan pada ketentuan PMK, maka perbaikan tarif bisa merembet ke lini asuransi lain. Saat ini, perang tarif juga terjadi hampir di semua lini bisnis asuransi seperti asuransi kebakaran, asuransi rekayasa, asuransi pengangkutan barang, atau asuransi kapal.

Sebaliknya, jika pelaku asuransi umum tidak tahan godaan untuk banting harga lagi, maka tarif akan kembali ‘normal’ seperti sebelum PMK dirilis. Masa suram industri asuransi umum bakal terus berlanjut. Ini artinya, industri asuransi umum sudah tidak bisa diatur. Pelakunya hanya mengeluh dan menghitung masa untuk menjumpai satu per satu asuransi yang akan tumbang. Kondisi asuransi umum memang tampak kontras dibandingkan asuransi jiwa, namun itulah realitanya.

Ujian tambahan di tahun depan adalah merapatnya ke 2009 dimana Pemilu bakal digelar. Namun efek ke industri asuransi itu tidak akan besar sepanjang kondisi politik masih dalam taraf normal. Kondisi ekonomi 2009, juga berat karena pengaruh global, baik gejolak harga minyak maupun krisis keuangan.

Eksposur risiko asuransi umum dan asuransi jiwa juga tambah besar sebagai dampak pemanasan global seperti makin parahnya banjir, badai, kekeringan, timbulnya wabah penyakit, dll. Artinya, potensi klaim asuransi makin naik untuk tahun-tahun ke depan.

Prasyarat Internal

Bila pertumbuhan asuransi jiwa stabil, tahun 2008 diprediksi terkerek hingga 25%-30%. Sedangkan asuransi umum optimis naik di atas 10%. Jika tarif perpanjangan asuransi tidak turun dan perang tarif dapat ditekan, maka pertumbuhan asuransi umum kemungkinan bisa lebih dari 15%.

Optimisme yang realistis di atas dapat tercapai tentunya bukan semata-mata faktor dukungan pemerintah melalui regulasi. Tetapi juga ditopang dengan upaya keras pelaku industri asuransi untuk terus berkembang.Adabeberapa faktor internal yang berpengaruh pada pencapaian tersebut.

Pertama, prakondisi perbaikan tarif premi di asuransi umum. Target mengakhiri perang tarif di tahun depan hanyalah sebuah mimpi. Bagaimana tidak, gelagat berhentinya perang tarif belum terlacak sampai penghujung tahun 2007. Hal yang paling mungkin dilakukan dalam fase prakondisi ini adalah dengan tidak menurunkan tarif saat perpanjangan asuransi tahunan.

Kedua, industri asuransi umum harus lulus dalam ujian mematuhi PMK 74/2007. Kesepakatan bersama antarperusahaan asuransi umum mengenai pematuhan terhadap PMK ini yang ditandatangani direksi asuransi umum pada tanggal 11 September 2007 harus benar-benar diimplementasikan. Ketundukan pada PMK ini akan memberikan dua dampak besar yakni terdongkraknya premi asuransi kendaraan dan akan menjadi langkah awal perjalanan perbaikan tarif menuju tarif yang wajar.

Ketiga, mengoptimalkan saluran distribusi. Agen dan broker asuransi telah teruji menjadi penyumbang utama industri asuransi. Namun peran bancassurance (menjual asuransi melalui bank), belum tergarap optimal. Asuransi jiwa adalah yang paling mampu memanfaatkan saluran distribusi ini.

Dari kajian Sigma No.5/2007 Swiss Re yang dirilis Oktober lalu, menunjukkan kontribusi bancassurance pada premi asuransi jiwa di beberapa negara Eropa berkisar 20% hingga 72% di tahun 2005. Sedangkan untuk asuransi umum sejak tahun 2000 hingga 2006, kontribusinya selalu di bawah 12%.

Peluang untuk menggelembungkan premi dari bancassurance di Indonesia sangat besar. Ada tida faktor akseleratif yakni beberapa perusahaan yang memiliki bank dan asuransi dalam satu grup, bancassurance yang merupakan simbiosis mutualisme, dan kecenderungan masyarakat kita yang makin pragmatis untuk mendapat pelayanan menyeluruh dalam bentuk one stop shopping.

Keempat, pelaku asuransi harus secara terus-menerus berinovasi untuk masuk ke ceruk pasar asuransi baru. Ini bisa dilakukan baik dari sisi variasi fitur produk atau masuk ke pangsa yang belum tergarap. Produk unit link di asuransi jiwa saat ini menjadi primadona. Sedangkan asuransi kendaraan akan kembali menjadi magnet asuransi umum pasca dikeluarkannya PMK 74/2007. Namun diperlukan inovasi produk asuransi baru untuk menjawab risiko yang makin kompleks yang dihadapi manusia.

Satu hal sangat penting meskipun bukan hal yang baru adalah fenomena menggeliatnya kembali hasrat mengembangkan asuransi mikro (microinsurance). Di tahun-tahun mendatang dukungan terhadap asuransi mikro harus digalakkan. Asuransi untuk masyarakat berpenghasilan rendah ini memang tidak terlalu menjanjikan premi signifikan. Tapi ada efek besar jangka panjang yakni tumbunya kesadaran massif berasuransi di tingkat masyarakat.

Wajah industri asuransi di tahun depan sangat ditentukan oleh komitmen berbenah dari internal pelaku industri. Ekspansi agresif dan inovasi tak banyak berarti ketika tekad perbaikan tergoyahkan oleh godaan untuk melakukan praktek persaingan tidak sehat, khususnya untuk asuransi umum.