Tag

, , , ,

Dimuat di  Media Asuransi, Februari 2008.

Warna indah sejarah Indonesia digoreskan oleh kaum muda. Di usia 20 tahun, dr Soetomo  mendirikan Budi Utomo, organisasi pergerakan nasional pertama. Soekarno di usia 30 tahun juga menyampaikan pledoi terkenalnya, Indonesia Menggugat. Bersama Bung Hatta (43 tahun), Bung Karno (44 tahun) memproklamirkan kemerdekaan setelah sebelumnya diculik oleh para pemuda ke Rengasdengklok.

Tapi jika kita melihat perpolitikan nasional, kisah tersebut tinggal sejarah. Pemimpin nasional masih didominasi orang-orang tua, bahkan sebagian usianya sudah uzur. Terlebih lagi nama-nama yang sering disebut untuk maju ke Pilpres 2009 masih dari generasi tua. Gerakan “Saatnya Kaum Muda Memimpin” teralienasi dan berlalu begitu saja.

Bagaimana peran kaum muda di industri asuransi? Tulisan ini tidak ingin mendikotomi generasi tua & generasi muda tapi sebagai sajian untuk introspeksi demi kemajuan industri asuransi ke depan. Ajang Young ASEAN Manager Award atau pemilihan tokoh muda asuransi seyogianya mampu menggugah kedua generasi untuk melakukan lompatan perbaikan di industri asuransi. Mereka yang masuk nominasi adalah kaum muda dengan peran dan karir yang bersinar. Merekalah calon penentu industri asuransi Indonesia.

Harus diakui bahwa kita harus berterima kasih pada generasi sebelumnya dan generasi tua yang saat ini masih menjadi penentu di industri asuransiIndonesia. Berkat merekalah industri asuransi berkembang seperti sekarang ini. Asuransi di Indonesia mampu memberikan kontribusi pada pembangunan bangsa meskipun kiprahnya relatif masih kecil.

Di sisi lain, generasi muda seharusnya tidak sekedar dipandang sebagai penerus, tetapi juga sebagai generasi pembaharu. Generasi muda memang akan meneruskan tongkat estafet, namun apa yang dilakukan di masa depan haruslah suatu bentuk pembaharuan. Untuk itu, setidaknya ada tiga hal yang semestinya dilakukan oleh generasi tua kepada yang muda.

Pertama, mempersiapkan sebaik mungkin regenerasi. Jenis persiapan ini adalah dengan mendidik dan bukan mendikte. Generasi muda tidak hanya hidup di jaman generasi tua, tetapi akan ada di masa datang dengan tantangan yang berbeda. Konsep dan cara yang dilakukan generasi tua tak semuanya klop untuk masa depan karena ada yang sudah usang. Dengan demikian, setelah memberikan bekal yang cukup, biarkanlah generasi muda mempraktekkan dengan caranya sendiri.

Kedua, generasi muda harus terus di-support dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dan berkarya. Orang muda relatif mempunyai pikiran dan tenaga yang masih segar. Dengan pengaruh dunia global, bisa jadi sebenarnya kemampuannya menyalip yang tua. Kekalahan orang muda mungkin hanya satu yakni pengalaman.

Ketiga, “Pak tua sudahlah….”, itulah sepenggal lagu yang dipopulerkan grup Elpamas. Dalam bahasa Ki Hajar Dewantara, generasi tua sebaiknya berposisi tut wuri handayani yakni berada di belakang dan mendorong kiprah kaum muda. Bersedia lengser ketika sudah tidak produktif untuk kemajuan perusahaan dan bangsa adalah suatu sikap yang sangat arif.

Tak Sekedar Muda Usia

Industri asuransi Indonesia memang membutuhkan kiprah yang lebih besar dari kaum muda. Paradigma urut kacang yang memberikan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan berdasarkan senioritas sudah tidak jamannya lagi, sudah kuno dan rentan di tengah persaingan global.

Namun usia muda saja tidak cukup untuk memimpin dan berkiprah di industri asuransiIndonesiakarena yang dibutuhkan tidak sekedar itu. Setidaknya ada dua syarat kepemimpinan kaum muda yang akan membawa industri asuransiIndonesiaakan jauh lebih baik dalam berperan untuk pembangunan bangsa.

Pertama, generasi muda di industri asuransi harus belajar banyak dari kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya dan tidak mengulangi kesalahan tersebut. Meskipun tidak terseok seperti perbankan saat krisis ekonomi, tetapi perkembangan industri asuransi masih banyak kekurangan. Generasi muda juga seharusnya relatif bebas dari kontaminasi perilaku kurang baik yang dilakukan generasi sebelumnya.

Kedua, generasi muda harus mampu memunculkan ide-ide baru dan terobosan untuk keluar dari kejumudan bisnis asuransivIndonesia. Persoalan dan tantangan industri asuransi tidak sedikit. Keduanya timbul dari kreasi pelaku industri dan masyarakat, kondisi ekonomi-politik bangsa, maupun imbas dari industri asuransi dunia. Sekedar contoh, kronisnya persaingan tarif premi di industri asuransi umum, perlu ide brilian sebagai jalan keluarnya.

Tanpa kedua hal di atas, maka regenerasi dari orang tua ke kaum muda hanya sekedar menaruh tongkat estafet, tanpa perbaikan signifikan. Sehingga perkembangan industri asuransi ke depan sudah bisa diprediksi, tanpa lompatan berarti. Ini artinya, generasi muda sama sekali tidak bisa diharapkan lebih karena perannya hanya mengulang ‘tradisi’ generasi sebelumnya.

Untuk itu, maka kedua generasi harus introspeksi. Adakah generasi tua sudah mempersiapkan regenerasi sebaik mungkin? Apakah yang muda juga telah siap meneruskan dengan arah yang lebih baik? Jika kaum muda yang saat ini karir dan perannya sedang bersinar terang tak mampu memenuhi kedua persyaratan di atas, bisa jadi sinar terangnya hanya semu yang tak mampu menjadi penerang saat memegang estafet kepemimpinan nanti.