Tag

, , , , , , ,

Image

Dimuat di Bisnis Indonesia, 18 April 2012.

Bola pemilihan komisioner OJK ada di DPR. Hingga saat ini, proses pemilihannya penuh kritik tajam. Persoalan transparansi, dominasi birokrat, dan lolosnya mereka yang (pernah) menjadi regulator adalah sebagian dari kritik.

Masa depan industri asuransi sangat tergantung dari siapa yang di OJK. Menariknya, dua orang yang bakal mengurusi perasuransian, dana penisun, dan lembaga pembiayaan di OJK adalah mereka yang pernah dan saat ini menjabat sebagai regulator dan pengawas industri asuransi (www.bisnis.com, 13 April 2012).

Para praktisi asuransi yang mendaftar berguguran. Hanya mampu ikut seleksi tahap ke-3. Berbeda dengan praktisi perbankan yang mampu melenggang lolos sampai ke DPR. Ini menjadi introspeksi bagi pelaku industri asuransi.

Titip ke DPR

Seleksi terus jalan. Industri asuransi pasti berharap yang terbaik yang terpilih. Dalam fit & proper test nantinya, DPR harus melakukan eksplorasi secara mendalam tentang visi calon komisioner. Harus digali kemana para calon membawa industri asuransi ke depan.

Ini perlu dilakukan agar tidak ada kesan industri asuransi terdiskriminasi dalam isu pemilihan komisioner OJK. Hampir bisa dipastikan bahwa persoalan perbankan lebih mengemuka. Wajar karena kontribusi asuransi masih kecil terhadap ekonomi nasional. Namun tetap harus proporsional.

Perlu perhatian rekam jejak para calon selama mengatur dan mengawasi industri asuransi. Keempat hal ini juga perlu menjadi prioritas OJK dalam membawa industri asuransi ke depan.

Pertama, membawa industri asuransi agar tetap on the track. Sebagian ukurannya adalah pertumbuhan dan profitabilitas yang tinggi. Tahun 2011, industri asuransi tumbuh 27%. Pertumbuhan premi asuransi di Indonesia selalu lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan asuransi dunia dan negara berkembang. Dalam jangka panjang, bila dapat dipertahankan, industri asuransi Indonesia akan mampu menempel ketertinggalan dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand dalam penetrasi asuransi.

Hal yang sama juga dapat dilihat dari profitabilitasnya. Sebagai ilustrasi, selama tahun 2006-2010, rata-rata return on equity industri asuransi umum sebesar 12,34%. Di tengah persaingan ketat, profitnya masih bagus. Ditopang dari hasil underwriting (seleksi risiko) dan hasil investasi.

Kebijakan pengaturan dan pengawasan OJK akan sangat mempengaruhi arah industri asuransi ke depan. Di tengah persaingan ketat, asuransi asing yang terus merangsek, naiknya kerentanan risiko sehingga potensi klaim makin tinggi, dan potensi pasar yang masih besar, kebijakan OJK menjadi satu sisi penentu arah industri. Sisi pengawasan yang masih lemah, harus diperbaiki.

Kedua, kebijakan dan implementasi perlindungan konsumen. Tidak hanya memberikan efek positif pada konsumen, tetapi juga pada industri asuransi sendiri. Seperti diketahui bahwa bisnis asuransi adalah ‘bisnis janji’ yang sangat mengedepankan kepercayaan. Reputasi sangat menentukan.

Kasus Bakrie Life yang saat ini masih belum selesai, dapat menurunkan kepercayaan masyarakat. Setidaknya, efeknya menimbulkan rasa kekhawatiran masyarakat. Di tengah kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang asuransi, kasus ini menjadi kontraproduktif.

Tantangan OJK adalah mendongkrak kepercayaan masyarakat. Kemudahan saat berasuransi, harus diikuti dengan kemudahan saat mengurus klaim. Juga lembaga penjamin polis yang desainnya mirip lembaga penjamin simpanan di perbankan, harus direalisasikan. Konsumen, khususnya pemegang polis asuransi jiwa akan lebih tenang ketika berasuransi.

Ketiga, OJK harus mampu mengegolkan gawe besar industri asuransi, yakni revisi UU perasuransian. UU No. 2/1992 tentang usaha perasuransian sudah uzur. Umurnya sudah 20 tahun dan tak mampu mengikuti perubahan cepat di industri.

Banyak hal baru dalam revisi yang kini sedang digodok. Tambahan asuransi wajib, asuransi mikro, dan asuransi bencana, yang kini belum diatur secara memadai, perlu payung hukum yang jelas agar berkembang lebih baik.

Keempat, membawa asuransi sebagai industri yang berperan besar dalam pembangunan bangsa. Posisinya seharusnya tak dilihat sebelah mata. Fungsinya sangat signifikan, sebagai industri pengelola risiko yang belum ditemukan subtitusinya.

Sungguh ironis, negeri yang tak henti dirundung bencana ini, belum juga memiliki skema asuransi bencana. Masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah di daerah rawan bencana, tanpa didampingi polis asuransi bencana.

Upaya pelaku industri untuk terlibat dalam skema penanganan bencana, tak didukung oleh komitmen dan regulasi. Pemerintah masih pede menanggulangi bencana sendiri dengan merogoh APBN. Padahal mekanisme risk transfer/risk sharing dengan industri asuransi dapat menjadi alternatif ampuh.

Skeptisme dan Harapan

Ada skeptisme perubahan besar akan terjadi bila yang mengurusi jasa keuangan (termasuk industri asuransi) di bawah OJK adalah orang-orang yang saat ini atau pernah menjadi regulator. Skeptisme yang wajar. Namun semangat baru OJK dan terintegrasinya otoritas keuangan, diharapkan mampu membawa perubahan itu.

Terbukanya akses informasi dan komunikasi, bertambahnya kaum terdidik, serta kontrol DPR dan masyarakat, akan menjadi kombinasi ampuh meningkatkan kinerja OJK. Tanpa tekanan aspirasi yang kuat dari pelaku industri dan kontrol ketat masyarakat, kinerja OJK tidak optimal. Masa depan industri asuransi tak hanya bergantung dari OJK, tapi juga dari pelaku industri dan masyarakat.