Tag

, , , , , , ,

Dimuat di koran KONTAN, 23 Juni 2012.

Saat industri perbankan sedang ramai menyoal pembatasan kepemilikan asing, industri asuransi justru tetap melenggangkannya. Raksasa asuransi ACE Limited mengakuisisi Asuransi Jaya Proteksi (JaPro) senilai US$130 juta (Harian Kontan, 15 Juni 2012).

ACE Limited telah beroperasi di 53 negara, tercatat di New York Stock Exchange dan masuk dalam Standard & Poors 500 index. Di Indonesia, ACE juga telah memiliki perusahaan asuransi jiwa. Komplit sudah. Dengan akuisisi JaPro, ACE menyemarakkan persaingan di industri asuransi nasional, baik di sektor asuransi jiwa maupun asuransi umum.

Kehadiran investor asing di industri asuransi nasional masih terus terbuka. Tidak ada regulasi yang membatasi. Aturan dalam PP 39/2008 tentang maksimum kepemilikan asing 80%, hanya berlaku pada saat pendirian perusahaan asuransi. Tidak berlaku setelah berdiri.

Di industri asuransi umum, dominasi asuransi lokal belum tergoyahkan oleh asuransi patungan (joint ventures). Dari 15 besar perusahaan asuransi umum yang menguasai 72,47 persen total aset asuransi umum nasional, hanya ada dua asuransi patungan di urutan 15 besar.

Namun industri asuransi jiwa nasional, dikuasai asuransi patungan. Dari 15 besar perusahaan asuransi jiwa yang menguasai 87,69 persen total aset tahun 2011, ada sembilan perusahaan patungan (LRMA, 2012).

Prestasi Moncer JaPro

Kinerja JaPro memang luar biasa. Tak heran bila ACE kepincut. Pada tahun 2006, premi brutonya hanya Rp239,12 miliar. Dari sisi perolehan premi bruto, posisinya berada di urutan ke-16 dari seluruh perusahaan asuransi umum nasional.

Tapi di tahun 2010, premi brutonya sebesar Rp849,68 miliar. Berada di posisi 9 besar, naik 7 peringkat. Prestasinya terus naik. Di tahun 2011, premi brutonya nyaris mencapai Rp1,14 triliun. Kini JaPro berada di posisi ke-8 perusahaan asuransi umum dengan perolehan premi tertinggi.

Rerata pertumbuhan premi bruto asuransi umum nasional tahun 2007-2011 adalah 14,67 persen. Untuk periode yang sama, rerata pertumbuhan JaPro sebesar 40,00 persen. Tahun 2011, asetnya sebesar Rp1,04 triliun atau naik 38,13% dibandingkan tahun 2010.

Dari sisi return on equity (ROE), pada kurun waktu 2006-2010, rerata ROE industri asuransi umum sebesar 12,34 persen. Sedangkan JaPro berhasil memiliki rerata ROE 38,36 persen. Di tahun 2011, ROE JaPro mencapai 33,99 persen. Hampir bisa dipastikan ROE JapPro tetap di atas rerata ROE industri asuransi umum tahun 2011.

JaPro memiliki pertumbuhan relatif dan ROE relatif lebih besar dibandingkan dengan rerata industri. Menurut Hofer dan Schendel (seperti dikutip Wernerfelt & Montgomery, 1986), ada dua hal yang menentukan daya tarik industri yaitu pertumbuhan dan profitabilitas industri. Calandro dan Lane (2007) mengungkapkan hal serupa bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh pertumbuhan dan profitabilitasnya.

Di dalam matriks Calandro-Lane, posisi perusahaan dapat dibandingkan dengan industrinya. Dikelompokkan ke dalam empat kuadran yang menggunakan parameter pertumbuhan dan ROE. Keempat kuadran tersebut adalah franchise, unprofitable growth, under-performer dan harvest. Untuk periode 2006-2011, JaPro berada dalam kuadran franchise. Kuadran idaman banyak perusahaan.

Warning

Akankah investor asing akan mengakuisisi perusahaan asuransi lokal lagi? Akuisisi adalah aksi korporasi yang perlu pertimbangan sangat matang. Peluang itu selalu ada.

Ada beberapa hal penting dari akuisisi JaPro oleh ACE. Pertama, akuisisi adalah peristiwa biasa di dalam aksi korporasi. Pertumbuhan anorganik melalui akuisisi telah terjadi di industri asuransi global dan telah beberapa kali terjadi pada industri asuransi nasional.

Di tengah upaya pemenuhan ekuitas sebesar Rp70 miliar (2012) dan Rp100 miliar (2014) sesuai PP 81/2008, merger dan akuisisi (M&A) membuka peluang akan marak terjadi.

Kedua, investor asing terus melirik Indonesia. Potensi asuransi yang masih sangat besar dan belum ada regulasi yang membatasi investasi asing. Semangat perbankan yang akan membatasi kepemilikan asing, seharusnya menular ke industri asuransi. Sebaiknya regulator asuransi juga menggodok pembatasan kepemilikan asing.

Kebutuhan menambah modal bagi perusahaan asuransi dengan ekuitas di atas Rp100 miliar tidak berhadapan hidup-mati. Berbeda dengan perusahaan bermodal kecil. Sebisa mungkin regulator membuat aturan agar upaya akuisisi perusahaan asing untuk sementara ini diarahkan ke perusahaan bermodal kecil.

Ketiga, tak perlu paranoid dengan ancaman asing di industri asuransi umum. Tipikal industri asuransi umum di Indonesia adalah persaingan (harga) yang sangat ketat. Tidak semua ritme persaingan dapat diikuti perusahaan patungan.

Buktinya, investor asing masuk ke industri asuransi jiwa dan umum, namun ‘baru’ menguasai sektor asuransi jiwa. Belum terjadi di industri asuransi umum. Artinya ada perbedaan karakteristik industri dan kebijakan manajemen perusahaan.

Keempat, pelaku asuransi lokal sudah diberikan warning dengan akuisisi JaPro. Seyogiyanya merangseknya investor asing ditanggapi secara positif. Bila tidak ingin investor asing merajai, maka perlu melakukan aksi nyata.

Aksinya dapat dilakukan dengan terus menyuntikkan modal atau membeli asuransi bermodal cekak agar tak diambil asing. Sinergi kebijakan regulator dan aksi nyata investor lokal akan dapat efektif membendung cengkeraman asing di industri asuransi nasional.

*****