Tag

, , , , , ,

Dimuat di majalah Sindo Weekly No. 21 Tahun I, 26 Juli – 1 Agustus 2012.

Seorang karyawan perusahaan asuransi bangga ketika perusahaannya ditetapkan sebagai perusahaan terbaik oleh sebuah majalah. Namun tak lama, kebanggaannya terkikis. Dia kaget, di majalah lain, perusahaannya merosot peringkatnya dibandingkan pesaingnya.

Ya, di bulan Juni dan Juli 2012, tiga majalah di bidang bisnis dan keuangan menerbitkan laporan utama yang serupa. “27 Best Insurance 2012”, itu judul majalah Media Asuransi (MA) edisi Juni 2012. Sedangkan di bulan Juli 2012, majalah InfoBank (IB) dan Investor masing-masing menurunkan laporan utama “Rating 120 Asuransi Versi InfoBank 2012” dan “20 Best Insurance Companies”.

Tiap tahun, ketiga majalah tersebut rutin menurunkan peringkat asuransi versi mereka. Sumber analisis untuk pemeringkatannya sama yaitu laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan asuransi (umum dan jiwa) di Indonesia. Yang membedakan adalah metode analisis yakni klasifikasi dan alat/kriteria analisis.

Ketiga majalah tersebut ‘sepakat’, peer group berdasarkan ukuran perusahaan. Namun kriteria ukuran besar-kecilnya perusahaan berbeda. MA mengklasifikasikan berdasarkan ekuitas. Sedangkan pengelompokan IB berdasakan premi bruto. Sementara itu Investor memilih aset untuk menentukan besar-kecilnya perusahaan.

Kriteria penilaian juga tergantung dari industrinya. Tidak sama antara industri asuransi umum, jiwa dan reasuransi. Hal ini disebabkan sifat bisnisnya yang tidak semuanya sama persis (meskipun sama-sama bisnis menanggung risiko).

MA punya 12 kriteria penilaian yaitu pertumbuhan (pendapatan premi, premi langsung, premi tak langsung, cadangan teknis, hasil underwriting, hasil investasi, dan laba) di tahun 2011. Juga kriteria tingkat penyelesaian klaim, rasio investasi, total asset turn over (TATO), rasio kualitas aset, dan return on equity (ROE).

Beda lagi dengan IB yang memiliki 10 kriteria. Diantaranya ukuran risk based capital (RBC), likuiditas, rasio dana jaminan terhadap cadangan teknis, rasio aktiva tetap terhadap modal sendiri, perubahan premi bruto, dan rasio pendapatan premi neto terhadap modal sendiri. Selain itu juga rasio beban klaim neto terhadap pendapatan premi neto dan rasio laba terhadap modal sendiri.

Sementara itu, Investor memakai 14 kriteria yang didominasi tujuh kriteria pertumbuhan. Pertumbuhan diukur selama tiga tahun pada aset, investasi, ekuitas, premi neto, hasil investasi, pendapatan dan laba bersih. Kriteria lainnya adalah pangsa pasar premi neto, TATO, ROA, RBC, dll.

Meskipun sumbernya sama, namun karena metode analisis berbeda, maka hasilnya pun berbeda. Jangan heran bila terbaik versi sebuah majalah, namun tidak demikian versi majalah lain. Perusahaan yang tidak bagus oleh penilaian sebuah majalah, belum tentu perusahaannya jelek. Lagi-lagi berpulang pada kriteria penilaian.

Sekedar contoh, sebuah perusahaan yang mendapat peringkat nomor 1 versi MA, ternyata ada di posisi ke-16 versi IB. Bahkan lebih ekstrem, ada perusahaan dengan peringkat jawara versi sebuah majalah, justru tidak lolos pemeringkatan di majalah lainnya.

Sisi Positif

Publikasi hasil pemeringkatan tersebut tentu saja memiliki sisi positif. Bagi masyarakat, khususunya pemegang polis (tertanggung), pemeringkatan tersebut dapat menjadi referensi untuk memilih perusahaan asuransi yang tepat.

Seluruh perusahaan asuransi memang sudah mempublikasikan laporan keuangan di media massa. Bisa dilihat kondisi keuangan tahun 2010 dan 2011. Namun tak semua orang mampu ‘membaca’ laporan keuangan untuk menentukan perusahaan yang bagus. Ketiga media massa tersebut mampu menyederhanakannya. Memudahkan masyarakat menilai.

Dalam melakukan transaksi asuransi memang butuh memilih perusahaan asuransi yang dapat dipercaya. Ada asimetri informasi. Masyarakat tidak tahu banyak bisnis asuransi, sementara ada konsekuensi ketika sudah memilih. Kasus Asuransi Bakrie Life misalnya, menjadi pelajaran berharga.

Penyajian informasi oleh ketiga majalah tersebut, bagi perusahaan asuransi, dapat digunakan untuk mengukur diri, introspeksi, dan penyemangat. Masing-masing perusahaan dapat melihat sisi positif-negatif dibandingkan lainnya.

Sebenarnya perusahaan asuransi memiliki kemampuan sendiri untuk melakukan komparasi dengan pesaingnya. Bahkan boleh tidak sepakat dengan kriteria penilaian media massa. Namun penilaian secara independen, apalagi hasilnya dipublikasikan ke masyarakat, dapat menjadi cambuk untuk berprestasi lebih baik.

Pemeringkatan tersebut membuat pemetaan makin jelas. Dengan sedikit tambahan data dan tambahan analisis, siapa pesaing tangguh dan siapa yang dapat diajak kerja sama, makin mudah dilihat. Tentu saja selanjutnya, perusahaan asuransi dapat mempelajari rahasia sukses pesaingnya.

Bagi perusahaan yang dinilai bagus dan berada di peringkat atas, umumnya hasil pemeringkatan tersebut dijadikan sebagai alat jualan untuk meyakinkan para pemegang polis dan pihak lain. Publikasi ketiga majalah tersebut dapat menjadi iklan gratis.

Sementara itu bagi stakeholders lainnya, publikasi peringkat asuransi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk berbisnis dengan perusahaan asuransi. Pemeringkatan telah menempatkan masing-masing perusahaan asuransi berada dalam posisi relatif terhadap para pesaingnya. Makin mudah bagi stakeholders dalam menilai.

Menilai Lebih Kritis

Pemeringkatan tersebut hanya berdasarkan pada data-data kuantitatif. Terlebih lagi hanya pada laporan keuangan tahun 2010/2011 (kecuali kriteria pertumbuhan tiga tahun versi Investor). Dimensi kualitatif tak tersentuh. Sedangkan pengukuran kinerja perusahaan itu banyak aspeknya. Salah satunya, misalnya, digunakan balanced scorecard.

Data-data yang ada sangat terbatas, apalagi potret sesaat. Di sisi lain, data dua atau tiga tahun belum dapat digunakan melihat tren kinerja perusahaan. Butuh data lebih panjang. Tren ini juga penting bagi pemegang polis, khususnya bagi asuransi jiwa yang sifat jaminan risikonya adalah jangka panjang.

Pemeringkatan media massa ini lebih tepat dikatakan sebagai ‘ranking’. Memeringkat berdasarkan urutan dan membandingkan antarperusahaan. Berbeda dengan rating yang diselenggarakan oleh lembaga pemeringkat seperti Standard & Poor’s, Moody’s, Pefindo, atau lainnya. Lembaga pemeringkat tersebut komprehensif dalam melakukan rating. Tak heran bila hasil pemeringkatan mereka umumnya relatif sama.

Tentu saja, industri asuransi dan masyarakat perlu memberikan apresiasi terhadap kepedulian media massa tersebut. Tambahan kriteria atau versi lain pemeringkatan dapat dilakukan oleh media massa atau institusi lainnya. Hasilnya pun sangat berpotensi berbeda dengan pemeringkatan yang sudah ada.

Unsur-unsur yang belum masuk seperti good corporate governance, manajemen risiko dan ukuran lainnya, menjadi peluang untuk membuka pemeringkatan asuransi dalam versi berbeda. Unsur tersebut tak bisa hanya diukur dari angka kuantitatif laporan keuangan.

Belum lagi sisi yang sering menjadi ‘momok’ konsumen asuransi yakni kualitas pelayanan. Sisi pelayanan, khususnya pada saat klaim, belum tersentuh sama sekali. Inilah yang membuat pemeringkatan versi media massa hanyalah salah satu sisi dari banyak sisi yang harus dinilai dan dibandingkan.

Alhasil, pemeringkatan media massa memang dapat dijadikan referensi. Tapi tetap perlu referensi tambahan dalam memilih perusahaan asuransi yang tepat.