Tag

, , , , , , , ,

Dimuat di koran Jurnal Nasional, 31 Juli 2012.

http://www.jurnas.com/halaman/11/2012-07-31/217162

Asuransi asing ‘mengancam’ industri asuransi nasional. Di bulan Juni 2012, setidaknya diumumkan dua aksi akuisisi perusahaan asuransi lokal oleh asuransi asing. Raksasa asuransi asal Swiss, ACE Limited, mengakuisisi Asuransi Jaya Proteksi (JaPro) senilai US$130 juta. Sedangkan Zuelling Group asal Phlilipina resmi mencaplok Asuransi Indrapura.

Berita rencana akuisisi belum selesai, Insurance Australia Group Limited (IAG) juga berancang-ancang masuk ke Indonesia. IAG menyiapkan dana A$ 100 juta (US$ 102 juta) dalam rangka menggapai kue bisnis 10% di Asia.

Sumber di asosiasi asuransi juga menyebutkan adanya minat asuransi asing. Beberapa asuransi dari AS, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia berniat mengais rizki di pasar asuransi Indonesia.

Pendorong Akusisi

Ada dua kebutuhan yang menjadi faktor pendorong masuknya asuransi asing. Pertama adalah kebutuhan asuransi lokal untuk menambah modal. Kedua adalah kebutuhan asing untuk ikut menikmati potensi besar di Indonesia. Keduanya klop, menjadi kutub magnet yang berbeda.

Berdasarkan ketentuan PP 81/2008, perusahaan asuransi harus memiliki ekuitas minimum sebesar Rp70 miliar (2012) dan Rp100 miliar (2014). Merger dan akuisisi (M&A) sangat terbuka peluangnya. Hingga triwulan I 2012, ada 23 perusahaan asuransi umum dan delapan perusahaan asuransi jiwa yang ekuitasnya belum mencapai Rp70 mililar.

Namun akuisisi tidak hanya akan terjadi pada asuransi yang butuh modal karena regulasi. JaPro dan Indrapura adalah dua asuransi yang ekuitasnya sudah di atas Rp100 miliar. Logika bisnis dalam kalkulasi untung-rugi adalah faktor utamanya.

Potensi asuransi di Indonesia sangat besar. Ini dapat dilihat dari besarnya pertumbuhan dan tingkat penetrasi asuransi. Pertumbuhan asuransi di Indonesia selalu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan asuransi dunia. Bahkan dibandingkan dengan rata-rata negara berkembang sekalipun.

Data Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) menyatakan bahwa di tahun 2011 pertumbuhan premi asuransi umum sebesar 20,86%. Sedangkan pertumbuhan asuransi jiwa mencapai 26,02%. Angka pertumbuhan ini jauh lebih besar dibandingkan pertumbuhan asuransi umum dunia yang hanya 1,9% dan asuransi jiwa yang justru turun 2,7% (Sigma, 2012).

Lebih lanjut, data Sigma (2012) menunjukkan bahwa penetrasi asuransi yakni prosentase jumlah premi terhadap pendapatan nasional bruto di Indonesia tahun 2011 hanya 1,7%. Indonesia hanya berada di posisi ke-67 di dunia. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jepang (11,0%), Singapura (5,9%), atau Malaysia (5,1%).

Di tengah persaingan ketat, industri asuransi di Indonesia juga masih menguntungkan. Sebagai gambaran, dalam kurun waktu tahun 2006-2010, rata-rata return on equity (ROE) industri asuransi umum sebesar 12,34%. Setiap tahun, ROE lebih tinggi dibandingkan suku bunga Bank Indonesia.

‘Kepedulian’ BUMN Asuransi

Peran asuransi asing di industri asuransi nasional sudah harus menjadi lampu kuning bagi pelaku asuransi lokal dan regulator. Penguasaan asing akan makin menggurita bila tidak ada aksi nyata dari pelaku lokal dan regulator.

Data Biro Riset Infobank (2012) menyatakan bahwa 59,26% pangsa aset asuransi jiwa dikuasai oleh asuransi patungan (ada saham asuransi asing). Di industri asuransi umum belum mengkhawatirkan karena pangsa aset asuransi patungan baru mencapai 10,36%.

Industri asuransi asing sudah lama menikmati berkah asuransi nasional. Tak hanya pada asuransi yang hadir secara fisik di Indonesia, tetapi juga perusahaan reasuransi di luar negeri.

Transaksi reasuransi Indonesia selalu defisit dengan reasuransi luar negeri. Dalam bahasa sederhana, premi yang dibayar ke perusahaan reasuransi luar negeri lebih besar daripada klaim yang dibayar perusahaan reasuransi luar negeri ke perusahaan asuransi nasional.

Defisit bahkan cenderung selalu meningkat. Secara berturut-turut dari tahun 2006 hingga 2010, defisit sebesar Rp3,82 triliun, Rp3,76 triliun, Rp5,04 triliun, Rp3,88 triliun, dan Rp4,71 triliun. Industri asuransi nasional hanya pernah surplus pada transaksi tahun 1999 sebagai efek klaim besar akibat huru-hara tahun1998.

Tentu saja tidak ada ideologi anti asing. Kehadiran asuransi asing juga memberikan kontribusi positif bagi industri asuransi nasional.

Pada perusahaan yang hidup-mati mencari tambahan modal, perlu dilirik oleh perusahaan BUMN asuransi komersial. BUMN dimaksud adalah tiga asuransi umum yakni PT. Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), PT. Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI), dan asuransi jiwa PT. Asuransi Jiwasraya.

Sementara itu BUMN PT. Reasuransi Internasional Indonesia (Reindo) sebaiknya tetap fokus sebagai perusahaan reasuransi. Belum perlu ikut megakuisisi. Dana yang dimiliki sebaiknya terus digunakan untuk memperbesar kapasitas reasuransi. Industri asuransi nasional butuh perusahaan reasuransi yang besar dan kuat agar defisit transaksi reasuransi dengan luar negeri bisa berkurang.

Keempat perusahaan BUMN tersebut saat ini juga telah memiki penyertaan langsung di perusahaan asuransi dan reasuransi. ‘Kepeduliannya’ dibutuhkan untuk mengakusisi asuransi kecil dalam rangka penyelamatan agar tidak dicaplok asuransi asing. Tentu saja tetap harus ada kalkulasi bisnisnya.

Ada tiga alasan kenapa berharap pada BUMN asuransi komersial. Pertama, regulator asuransi  hingga kini belum ada tanda-tanda membatasi kepemilikan asing. Asuransi asing akan terus merangsek. Aturan kepemilikan asing maksimal sebesar 80% hanya berlaku saat pertama kali investasi.

Harapan regulator akan membatasi asing sangat terbuka ketika industri asuransi dan perbankan berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ini karena di perbankan sudah mengatur pembatasan kepemilikan melalui Peraturan Bank Indonesia No. 14/8/PBI/2012 tentang kepemilikan saham bank umum.

Kedua, keempat perusahaan BUMN asuransi komersial tersebut dalam kondisi keuangan yang bagus (lihat tabel). Bahkan telah terbukti bertahun-tahun tergolong sebagai perusahaan asuransi besar.

Tabel: Data Keuangan BUMN Asuransi Komersial Tahun 2011 (dalam Rp juta)

Keuangan

Jasindo

Askrindo

ASEI

Jiwasraya

Total Aset

3.306.729

3.503.966

967.459

8.002.455

Premi Bruto

3.004.749

560.329

568.169

4.763.161

Ekuitas

1.303.966

3.011.115

692.884

1.395.853

Investasi

1.403.966

2.857.719

689.867

7.442.351

Laba Setelah Pajak

253.312

131.559

67.844

394.110

RBC (dalam %)

166,75

711,00

872,00

202,06

Sumber: Laporan Keuangan Publikasi Perusahaan

Pertumbuhan secara anorganik melalui akuisisi perlu terus dilakukan BUMN asuransi komersial dalam rangka mempercepat pertumbuhan dan laba. Memang tetap harus dilakukan hati-hati karena menurut Schmidt, seperti dikutip David (2011), 20% merger dan akuisisi berhasil, 60% hasilnya mengecewakan, dan 20% gagal.

Ketiga, BUMN asuransi komersial harus menjadi market leader di industri asuransi nasional. Di industri asuransi umum, ketiga BUMN masuk dalam 15 besar dari sisi aset dan premi bruto. Namun baru menguasai sekitar 14,43% total aset asuransi umum nasional.

Di industri asuransi jiwa, Asuransi Jiwasraya berada di posisi ke-9 dari sisi aset dan peringkat ke-8 untuk perolehan premi bruto terbesar. Total asetnya hanya 3,56% dari total aset industri asuransi jiwa nasional.

Jika hanya mengandalkan pertumbuhan organik, maka BUMN asuransi komersial akan berpacu dengan asuransi asing. Kontribusi/prosentase diatas bakal tergerus bila asuransi asing agresif, khususnya melalui upaya akuisisi, sementara tidak diikuti upaya serupa oleh BUMN asuransi komersial.

Asuransi patungan/asing sangat dominan di industri asuransi jiwa. Tak salah bila BUMN asuransi umum komersial juga perlu melakukan diversifikasi dan ekspansi ke industri asuransi jiwa.

Dalam konteks ini, maka Kementerian BUMN (pemegang saham BUMN asuransi komersial) dan Kementerian Keuangan (regulator asuransi), perlu membahas langkah-langkah mengerem laju cengkeraman asuransi asing. Bila tanpa aksi nyata, maka suatu saat mungkin kita hanya bisa menyaksikan berkah asuransi nasional akan terbang ke luar negeri.

*****