Tag

, , , , , ,

Dimuat di koran Bisnis Indonesia, 18 Oktober 2012

Insurance day 2012 yang dirayakan tanggal 18 Oktober bertema “asuransi untuk semua”. Perlu upaya ekstra dari pelaku asuransi untuk mewujudkannya.

Perkembangan industri asuransi Indonesia masih menggembirakan. Pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan dengan industri asuransi di negara-negara berkembang, apalagi asuransi dunia. Juga dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam lima tahun terakhir misalnya, rerata pertumbuhan asuransi Indonesia sebesar 23,8 persen. Jauh lebih besar dibandingkan rerata pertumbuhan industri asuransi di negara-negara berkembang sebesar 6 persen. Rerata pertumbuhan ini juga di atas pertumbuhan ekonomi nasional dalam lima tahun terakhir.

Industri asuransi umum dikenal dengan persaingan harganya yang sengit. Pelaku industri mengeluhkan, sekaligus mempraktekkan ‘banting harga’.

Namun demikian, data tahun 2006-2011 menunjukkan combined ratio (penjumlahan rasio klaim dengan rasio biaya) berkisar antara 83,1 persen hingga 87,7 persen. Dengan besaran di bawah 100 persen, artinya industri masih memperoleh untung dari pengelolaan risiko.

Industri asuransi umum di Indonesia lebih efisien dalam pengelolaan risiko dibandingkan dengan di negara AS, Inggris, Australia dan Jepang. Juga lebih bagus dibandingkan dengan India dan Malaysia.

Dari sisi industri asuransi jiwa juga mencatat cerita bagus. Pertumbuhannya melesat meninggalkan pertumbuhan industri asuransi umum. Beberapa tahun belakangan, pertumbuhannya banyak ditopang oleh produk unit linked. Namun hingga semester pertama 2012, unit linked ini sedang redup. Tergeser oleh asuransi tradisional.

Perkembangan fantastis bahkan terjadi di industri asuransi syariah. Rerata pertumbuhan kontribusi asuransi syariah di Indonesia tahun 2007-2011 sebesar 67,33 persen.

Sayangnya, menurut Ernst & Young (2012), perkembangan industri asuransi syariah tergolong lambat dibandingkan dengan potensinya yang besar. Market share asuransi syariah di Indonesia masih kecil (3,8 persen).

Sementara itu, industri asuransi sosial bakal memasuki babak baru. Dengan UU Sistem Jaminan Sosial Nasional diharapkan pengelolaannya oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial akan lebih tertata dan memberi hasil yang optimal.

Asuransi untuk rakyat

Tema insurance day 2012 yang dirayakan tanggal 18 Oktober adalah “asuransi untuk semua”. Tema ini didasari atas realita bahwa yang merasakan manfaat asuransi belum kepada masyarakat kebanyakan. Bahkan kelompok masyarakat tertentu yang seharusnya terproteksi asuransi, justru tak tersentuh.

Asuransi hanya dibeli oleh orang-orang yang secara ekonomi mencukupi. Permintaan asuransi ditentukan oleh level pendapatan masyarakat (Outreville, 2011; Park & Lemaire, 2011). Semakin tinggi pendapatan masyarakat, permintaan asuransi juga makin besar.

Namun demikian, tak harus menunggu pendapatan perkapita besar, baru kemudian didekati oleh industri asuransi. Jika ini yang terjadi, maka asuransi tak akan mampu merakyat.

Impian mewujudkan asuransi yang merakyat akan menjadi lamban bila tanpa upaya ekstra pro aktif. Beberapa upaya ekstra dari pelaku dan regulator asuransi akan membuat akselerasi.

Pertama, komitmen bersama memasyaratkan asuransi mikro (microinsurance). Jenis asuransi ini didesain untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut riset Allianz, GTZ, & UNDP (2006) dan Lloyd’s (2010), jenis asuransi yang paling dibutuhkan di Indonesia adalah asuransi kesehatan untuk penyakit serius, pendidikan anak dan gagal panen

Butuh komitmen perusahaan asuransi untuk membuat produk dan menjual asuransi mikro. Hingga kini, hanya segelintir perusahaan asuransi yang menggarapnya. Kalkulasi bisnis adalah penghalang berkembangnya asuransi mikro ini. Tanpa komitmen dan/atau insentif dari pemerintah, akan sulit berkembang secara ideal.

Asuransi mikro ini sejatinya yang paling dapat menerobos masuk ke dalam seluruh lapisan masyarakat bawah. Preminya ringan, disertai dengan prosedur klaim yang simpel.

Kedua, kampanye melek asuransi secara kontinyu harus diimbangi kualitas pelayanan. Kebutuhan asuransi sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran masyarakat (Mony, 2006). Penyebab rendahnya kesadaran masyarakat adalah faktor ketidaktahuan.

Masyarakat tidak mengetahui (dengan baik) manfaat asuransi sehingga tidak merasa butuh. Untuk itu kampanye perlu terus dilakukan, baik melalui media massa, sekolah/kampus, atau lainnya.

Kampanye yang mengedepankan sisi positif, menjadi tidak efektif tatkala masyarakat menjumpai hal yang sebaliknya. Misalnya, perusahaan asuransi gagal bayar klaim atau pelayanan yang mengecewakan. Ini menjadi kampanye negatif industri asuransi.

Ketiga, mengerahkan seluruh potensi untuk mengenalkan asuransi. Tak terbatas pada publikasi dan pelayanan, tetapi aksi asuransi yang mengena langsung ke masyarakat.

Model coroprate social responsibility (CSR) perusahaan asuransi harus diformat ulang. Tak hanya fokus pada bentuk bantuan atau bina lingkungan, tetapi model CRS khas asuransi.

Perlu aksi perusahaan asuransi memberi jaminan asuransi gratis untuk relawan kemanusiaan, rakyat miskin di wilayah rentan bencana, subsidi premi asuransi mikro, atau lainnya. Masyarakat terbantu, sekaligus tahu manfaat asuransi.

Keempat, regulator menjadi katalis akselerasi pertumbuhan. Perlu insentif atau perlakuan khusus untuk produk-produk asuransi yang didesain untuk masyarakat kebanyakan.

Regulator perlu mendorong agar industri berbodong-bondong membuat produk-produk asuransi yang merakyat. Harapan itu ada di pundak Otoritas Jasa Keuangan tatkala regulator saat ini belum mampu merealisasikannya.

*****