Tag

, , , , ,

Dimuat di koran Bisnis Indonesia, 7 November 2012

Industri asuransi dan reasuransi global mulai menghitung klaim akibat Badai Sandy di Amerika Serikat (AS) dan sekitarnya. Berdasarkan perhitungan catastrophe risk model, estimasi kerugiannya fantastis. AIR Worldwide memperkirakan kerugian asuransi berkisar US$7-15 miliar. Sedangkan estimasi EQECAT lebih besar lagi. Nilai klaim diestimasi sebesar US$10-20 miliar. 

Klaim akibat bencana alam pada industri asuransi terjadi beruntun. Tahun 2011 adalah tahun dengan catatan akumulasi klaim bencana alam terbesar sepanjang 10 tahun terakhir. Nilai klaimnya US$130,2 miliar (AON, 2012). Catatan klaim besar diantaranya adalah akibat gempa Jepang sekitar US$ 35 miliar, gempa Selandia Baru dan banjir Thailand masing-masing US$12 miliar (Swiss Re, 2012).

Akibat klaim besar tahun lalu, hasil underwriting (seleksi risiko) dan laba industri asuransi/reasuransi global tergerus. Butuh pemulihan kembali (recovery). Tak heran bila tahun ini, perusahaan reasuransi global menaikkan premi. Efeknya, perusahaan asuransipun terpaksa ikut menaikkan premi.

Hingga pertengahan 2012, industri asuransi dunia menikmati kondisi dan hasil yang bagus.  Dari data AON menunjukkan bahwa kerugian bencana alam hingga pertengahan tahun sebesar U$14,7 miliar. Angka ini di bawah rata-rata selama tahun 2003-2011 sebesar US$49,4 miliar.

Sayangnya ‘bulan madu’ industri asuransi dunia tiba-tiba bubar. Badai Sandy datang. Bila menggunakan data estimasi AIR Worldwide dan EQECAT di atas, maka klaim asuransi akibat Badai Sandy masuk dalam 10 klaim asuransi terbesar dunia selama tahun 1970-2011 (Swiss Re, 2012).

Celakanya, tiap tahun ada kecenderungan naiknya jumlah bencana. NatCatSERVICE-Munich Re menghitung, bencana alam meningkat sebanyak 900 peristiwa di tahun 2009 menjadi 950 di tahun 2010. Dalam 30 tahun terakhir, rata-rata ada 615 bencana alam.

Siklus Pasar

Industri asuransi/reasuransi dunia mengikuti siklus pasar. Ada kondisi disebut ‘soft market’ dan ‘hard market’. Bila industri asuransi dunia mencetak profit bagus, maka pasar reasuransi akan menambah investasi dengan menaikkan kapasitas pertanggungan. Dampaknya, kapasitas bisa berlebih. Akibatnya bisa memicu premi yang lebih rendah. Inilah kondisi ‘soft market’.

Selanjutnya, premi yang rendah dapat menurunkan profit. Dalam waktu bersamaan, bila terjadi klaim yang besar, maka profit bisa anjlok. Industri reasuransi mengurangi kapasitas pertanggungan dan mengetatkan seleksi risiko. Efeknya, premi reasuransi naik. Hukum supply & demand berlaku. Pada posisi inilah ‘hard market’ terjadi di industri reasuransi dunia.

Tahun ini, industri asuransi dunia sedang pemulihan setelah dampak mega klaim di tahun lalu. Pemulihan tersebut diharapkan dari surplus underwriting (keuntungan dari seleksi risiko) dan hasil investasi.

Sayangnya hasil investasi bagus tidak terlalu bisa diharapkan. Ekonomi dunia sedang krisis, terutama di zona Eropa dan negara-negara maju lainnya. Maka surplus underwriting sangat diharapkan bisa mempercepat pemulihan. Salah satu cara yang telah ditempuh adalah menaikkan premi tahun ini.

Sayangnya, kenaikan premi belum memberi imbas signifikan, eh Badai Sandy mengamuk. Surplus underwriting bakal tergerus. Kedua penopang tersebut tak banyak bisa diharapkan untuk mendongkrak profit tahun ini.

Merembet ke Indonesia

Industri asuransi saling terkoneksi. Apa yang terjadi di belahan dunia lain, berpengaruh besar pada industri asuransi di dalam negeri. Klaim Badai Sandy memang tak langsung mengena ke Indonesia. Namun ada dampak tak langsung, yakni melalui transaksi reasuransi.

Perpanjangan perjanjian reasuransi otomatis (reinsurance treaty) tahun 2013 umumya mulai dinegosiasikan pada bulan November ini. Bisa diperkirakan bahwa industri asuransi Indonesia juga bakal dibayangi kenaikan premi reasuransi, meskipun tidak semua kelas bisnis asuransi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh pelaku industri nasional untuk mereduksi dampak kenaikan premi reasuransi dunia. Pertama, bagi perusahaan asuransi yang catatan klaimnya tidak besar di tahun ini, dapat menegosiasikan bahwa kenaikan premi reasuransi tak perlu. Hal ini karena perusahaan tersebut telah menyumbang hasil positif bagi perusahaan reasuransi luar negeri tersebut.

Kedua, menetapkan retensi sendiri yang lebih besar. Ide ini mensyaratkan modal yang besar pula. Upaya ini akan mereduksi ketergantungan pada reasuransi luar negeri, meskipun kecil.

Ketiga, memaksimalkan ketersediaan kapasitas reasuransi di dalam negeri. Syaratnya, empat perusahaan reasuransi dalam negeri harus siap dengan kapasitas yang besar.

Keempat, mencari pasar reasuransi alternatif. Khususnya pada perusahaan reasuransi yang relatif tidak terkena dampak klaim besar akibat Badai Sandy. Tidak mudah. Karena terkoneksinya industri asuransi/reasuransi global.

Akankah kenaikan premi asuransi dunia berimbas pada kenaikan premi yang dibayar konsumen (tertanggung)? Belum tentu. Masyarakat/korporasi sebagai tertanggung tak perlu khawatir berlebihan.

Industri asuransi umum di Indonesia berada dalam pasar persaingan sempurna. Tertanggung sangat sensitif terhadap harga. Bila ada perusahaan asuransi yang menaikkan premi, pesaingnya sudah siap dengan menawarkan premi yang sama (dengan tahun sebelumnya). Dengan mudah Tertanggung pindah ke perusahaan asuransi yang menawarkan premi lebih rendah dengan reputasi baik.

*****