Tag

, , , , ,

Dimuat di koran Bisnis Indonesia, 25 November 2012

Judul buku      : Islamic Business and Economic Ethics: Mengacu pada Al-Qur’an dan Mengikuti Jejak Rasulullah SAW dalam Bisnis, Keuangan, dan Ekonomi

Penulis              : Veithzal Rivai, Amiur Nuruddin dan Faisar Ananda Arfa
Penerbit           : PT. Bumi Aksara
Cetakan           : Pertama, Oktober 2012
Tebal                : xxi + 555 halaman
Harga              : Rp 105.000

Bisnis tanpa etika sudah menuai kritik tajam. Paradigma mencari untung sebesar-besarnya dengan menghalalkan segala cara adalah praktek bisnis tak beretika. Yang paling mengerikan adalah bisnis yang mengancam kehidupan manusia.

Alih-alih menguntungkan, praktek bisnis tak beretika justru menimbulkan dampak negatif yang besar. Tak hanya berdampak buruk bagi orang lain, tetapi juga pada perusahaan itu sendiri. Kita sudah tahu kisah beberapa korporasi besar dunia yang tumbang karena tak mengindahkan etika.

Kini, etika bisnis pun telah masuk dalam kurikulum kuliah. Bagi perguruan tinggi yang tak hanya mencetak manusia pandai, tetapi memberi perhatian bagaimana mengelola bisnis yang seharusnya, telah memasukkan etika bisnis sebagai mata kuliah.

Buku ini diklaim penulisnya dapat digunakan sebagai buku teks untuk S1, S2 hingga S3. Khususnya cocok untuk program studi terkait dengan bisnis/ekonomi Islam.

Posisi buku ini jelas, mengacu pada bisnis dan etika yang diajarkan di dalam Al-Qur’an dan contoh dari Rasulullah Muhammad SAW. Cuplikan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist Nabi disajikan untuk menguatkan landasan mengurai bisnis Islami.

Pembaca akan menjumpai bahwa ajaran bisnis dan etika Islami sangatlah universal. Artinya, dapat dipraktekkan oleh siapapun tanpa batas agama dan wilayah.

Ada 17 etika bisnis yang ditunjukkan Rasulullah SAW (hal 39-44). Diantaranya ada kejujuran, tidak ada sumpah palsu, tidak menjelekkan kompetitor, tidak monopoli dan tidak merusak kehidupan individu dan sosial. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa berbisnis harus dilakukan suka rela, barang yang halal, segera melunasi hutang dan tidak ada unsur riba. Landasan utamanya adalah tauhid.

Ada 33 aspek perbedaan bisnis Islam dengan non-Islam/kapitalisme. Diantaranya berkaitan dengan kepemilikan harta, distribusi kekayaan, fungsi negara, serta motif produksi dan konsumsi.

Dalam sembilan bab di buku ini, dikupas juga tentang manajemen dan organisasi bisnis menurut Islam. Tentu ada perbedaan dengan manajemen dan organisasi bisnis yang dipahami banyak orang yang lebih banyak berkiblat ke Negara Barat.

Salah satu yang sangat menarik adalah ketika membahas tentang pengeluaran modal dalam bisnis Islam (bab 6). Ketiga penulis buku ini memberi alternatif “investible surplus method” atau ISM. ISM ini adalah kerangka bisnis bebas riba.

Dalam mengevaluasi proposal investasi, ISM dijadikan sebagai alternatif metode yang lazim digunakan saat ini. ISM bisa menjadi alternatif selain payback period, accountants rate of return/ARR, discounted cash flow rate of return/DCFR, net present value/NPV dan machinery and allied product institute method/MAPI.

Sadar bahwa sistem ekonomi dan bisnis sangat dipengaruhi politik di dalam aplikasinya, penulis juga mengusulkan solusi melalui garis-garis besar politik ekonomi Islam. Ada peran negara yang dituntuk untuk mewujudkannya.

Bila kita membaca keseluruhan buku ini, maka praktek-praktek bisnis modern seperti adanya corporate social responsibility, good corporate governance, atau jaminan sosial, sudah diajarkan di dalam Islam. Sayangnya, banyak pemikir Islam terlambat memformulasikannya. Sehingga praktek-praktek bisnis bagus tersebut seolah bukan bersumber dari Islam, tetapi konsep Negara Barat.

Buku ini sangat bagus untuk para pebisnis yang ingin menerapkan konsep Islam, baik konsep manajemen bisnis maupun etika. Secara umum, pembaca akan mendapatkan gambaran yang jelas yang membedakan bisnis Islami dan tidak. Bagi para pebisnis, membaca buku ini bisa mengukur apakah cara bisnisnya selama ini sudah Islami atau belum.

Sayangnya, ketika membahas larangan-larangan dasar, buku ini hanya membahas tentang riba, gharar (ketidakpastian) dan maisir (taruhan). Riba yang sudah dibahas di satu bab khusus, masih diulang lagi.

Ada praktek mendasar yang seharusnya perlu dibahas lengkap terkait bisnis di Indonesia. Sayangnya justru terlewat di buku ini. Apa itu? Suap. Kita tahu bahwa terpuruknya negeri ini adalah karena praktek korup. Islam secara tegas melarang adanya riswah (suap) di dalam bisnis.

*****