Tag

, , , , , , , , , , , ,

(Naskah asli artikel yang dimuat di koran Investor Daily, 30 November 2012).

Pada dekade 90-an atau sebelumnya, tentu kita masih ingat merek-merek peralatan elektronik yang ada di sekitar kita. Mulai dari televisi, radio, tape recorder atau vcd player, kulkas, AC dan lainnya, hampir semuanya merek dari Jepang.

Kini, masihkah peralatan elektronik dari Jepang mendominasi? Tidak. Dari manakah peralatan elektronik yang kini bertebaran di sekitar kita? Ya betul, dari Korea Selatan.

Laris manisnya elektronik dari Korea inilah yang membuat peralatan elektronik asal Jepang rontok. PHK ribuan karyawan dan derita kerugian, menjadi berita yang akrab menempel pada pabrikan elektronik asal Jepang.

The Wall Street Journal (WSJ) bulan November ini menurunkan berita pada kuartal terakhir (Juli-September 2012), Panasonic dan Sharp masing-masing rugi US$8,7 miliar dan US$3,12 miliar. Sedangkan kerugian Sony relatif lebih kecil, US$345,7 juta. Kondisi ini kontras dengan produsen elektronik asal Korea, Samsung, yang mencetak laba US$6 miliar.

Artikel WSJtanggal 15 Agustus 2012 mengurai mengapa Jepang kehilangan mahkota elektroniknya. Mengutip petinggi Panasonic, dikatakan bahwa perusahaan Jepang terlalu percaya diri dengan teknologi dan keahlian di bidang proses. Mereka kurang memperhatikan produk yang diinginkan konsumen.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Choong Y. Lee dipublikasikan di International Journal of Multidisclinary Research bulan Maret 2012 cukup menarik. Judulnya, “A comparative study of business strategies between Korea and Japan: a case of electronics items between Samsung and Sony.”

Hasil riset tersebut menyimpulkan bahwa pada dekade lalu, Sony tidak mengembangkan produk yang mampu menjaga posisinya di pasar elektronik. Ada persoalan strategi korporasi. Banyaknya divisi menjadikan tidak fokus pada kompetensi intinya.

Sony juga punya masalah mendasar, yakni sistem kontrol manajemen, kepemimpinan dan budaya perusahaan. Mirip dengan yang diungkapkan petinggi Panasonic di atas, di Sony juga dikritik tak mampu mengikuti keinginan pasar.

Sementara itu, Lee mengungkapkan bahwa Samsung telah mampu mengejar dengan berprinsip pada kecepatan teknologinya. Sejak tahun 2007 telah menggeser posisi Sony. Perubahan dan inovasi adalah kuncinya. Pimpinan Samsung juga memiliki sense of urgency yang sangat kuat.

Samsung telah membangun brand yang sangat kuat. Salah satunya melalui sponsor di olahraga tingkat dunia. Lebih jauh menurut Lee, Samsung masih butuh untuk merubah ”follower mentality” lebih jauh.

Membandingkan Sony dan Samsung memang tak cukup untuk menjadi representasi Jepang dan Korea. Sony dan produsen elektronik asal negeri Samurai lainnya bukan tidak melakukan perubahan. Pasti mereka melakukan perubahan. Praktek manajemen Kaizen khas dari Jepang justru mengarahkan untuk berubah terus-menerus.

Dengan perbaikan terus-menerus memang tidak ada yang meragukan kualitas produk Jepang. Namun faktor inovasi dan paham keinginan konsumen mendominasi pemicu pergeseran kesuksesan produk teknologi elektronik.

Teknologi cepat berubah. Tidak inovatif, tidak laku. Konsumen juga perlu dimanjakan dengan fitur-fitur produk yang jauh melampaui yang dibutuhkan mayoritas konsumen. Inilah yang ada pada produk Samsung. Cepat dalam merilis produk baru dengan fitur-fitur lengkap di masanya.

Kekuatannya ada di riset. Tahun 2007, Samsung menghabiskan US$5,58 miliar untuk riset. Naik menjadi US$8,7 miliar tahun lalu. Jauh di atas Panasonic (US$6,6 miliar) dan Sony (US$5,5 miliar).

Produk negeri Ginseng tersebut tak hanya memukul produk-produk Jepang. Keperkasaan Samsung juga membuat gerah Apple asal AS di bidang komputer tablet dan smartphone.

Pelajaran manajemen

Pertarungan antara produsen elektronik Jepang dan Korea tak cukup dipahami sebagai sebuah fenomena alami dalam bisnis. Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil untuk kepentingan bisnis dan bangsa ini agar kompetitif.

Pertama, perubahan adalah keharusan. Tidak selamanya ada di puncak. Ada siklus. Leluhur kita pernah menjadi ‘bangsa’ yang (sangat) besar. Majapahit pernah jaya pada abad ke-14. Saat itu mungkin tak ada yang menduga bahwa kekuasaan tersebut bakal runtuh. Kini pusat kerajaan Majapahit hanyalah sebuah kecamatan kecil di Trowulan, Mojokerto.

Rhenald Kasali dalam bukunya, “Change!”, justru menyarankan perubahan harus dilakukan pada saat berada di posisi yang hebat. Ketika jalan terasa berat, artinya sedang mendaki, tapi bila berjalan lancar dan enak, itu pertanda sedang turun.

Banyak terjadi di organisasi, ketika sukses, terlena. Perubahan signifikan perlu terus dilakukan di sisi marketing, produk, proses, kepemimpinan, dan budaya organisasi.

Kedua, ilmu manajemen terus berubah. Maka harus terus belajar. Jepang punya praktek bisnis hebat, Kaizen. Banyak sistem manajemen yang ada seperti ISO 9001: 2008, Balanced Scorecard, Six Sigma,dll. Semuanya memiliki kelebihan-kekurangan dan kecocokan aplikasinya.

Keberhasilan manajemen Toyota bisa diserap ilmunya melalui filosofi The Toyota Way. Keberhasilan Samsung saat ini bisa memunculkan ‘The Samsung Way’. Kita perlu mempelajari kunci sukses dan kunci gagal dalam menerapkan filosofi dan sistem manajemen.

Ketiga, konsumen makin pintar. Melimpahnya informasi membuat mereka tak terjebak nama besar. Prinsip ekonomi berlaku, harga murah dengan kualitas bagus, ditambah dengan fasilitas yang memanjakan.

Keempat, usaha sekecil apapun tidak pernah sia-sia. Samsung didirikan tahun 1969. Sony sudah mendominasi sejak tahun 1970-an. Di toko-toko di AS, Samsung awalnya selalu ditampilkan di belakang produk lain dari Jepang dan negara lain (Lee, 2012). Usaha keras dan jangka panjang Samsung telah menuai hasil.

Tidak ada yang kekal. Yang di atas juga bakal turun suatu saat nanti. Di sisi lain, Indonesia yang saat ini masih terpuruk, tak mustahil (kembali) berjaya. Asal melakukan usaha/perubahan signifikan.

***