Tag

, , , , , ,

Dimuat di Koran KONTAN, 31 Desember 2012.

Industri asuransi dunia diprediksi belum masuk fase ‘hard market’ tahun depan. Fase ini ditandai dengan kenaikan premi reasuransi yang tinggi dan kapasitas pertanggungan yang lebih kecil. Namun demikian, kemungkinan besar tetap ada kenaikan premi reasuransi dunia. Khususnya di lini asuransi properti.

Fase ‘hard market’ ini terbentuk akibat industri (re)asuransi dunia terkena klaim sangat besar. Laba yang tergerus membutuhkan pemulihan dengan cara menaikkan premi. Di sisi lain, seleksi risiko (underwriting) dilakukan lebih ketat.

Catatan klaim besar di tahun 2012 tak sebanyak tahun 2011. Namun ada satu mega klaim yakni akibat Badai Sandy di AS bulan Oktober lalu. Hasil perhitungan catastrophe risk model, klaim asuransi akibat Badai Sandy masuk dalam deretan 10 besar klaim asuransi bencana di dunia sejak tahun 1970.

AIR Worldwide memperkirakan kerugian asuransi akibat Badai Sandy berkisar US$7-15 miliar. Sedangkan estimasi EQECAT dan RMS lebih besar lagi. Masing-masing sebesar US$10-20 miliar dan US$20-25 miliar.

Sebagian perusahaan asuransi sudah merivi target di tahun ini. QBE yang bermarkas di Australia misalnya, telah menurunkan target profit menjadi delapan persen dari sebelumnya 12 persen. A.M. Best juga telah menurunkan peringkat kreditnya.

Fase remang-remang

Prediksi pengamat menyatakan bahwa ekonomi dunia belum pulih. Namun akan ada perbaikan krisis di zona Eropa dan Amerika. Pasti ada imbasnya ke industri asuransi. Secara langsung akan berdampak pada hasil investasi perusahaan asuransi.

Akibat krisis, daya beli masyarakat juga bisa menurun, khususnya pada asuransi jiwa. Belum lagi aktifitas ekonomi yang melambat yang bisa berefek ke lini asuransi rekayasa, surety bond, asuransi pengangkutan, atau asuransi perjalanan. Dengan sedikit pemulihan, maka juga berimbas pada perbaikan di industri asuransi.

Beberapa pengamat dan pelaku industri menyatakan tahun 2013 masing remang-remang. Meskipun lebih optimis dibandingkan kinerja tahun 2012. Perusahaan reasuransi besar dunia, Swiss Re, memprediksi adanya pertumbuhan tiga persen di industri asuransi umum. Sedangkan industri asuransi jiwa tumbuh sekitar dua persen di tahun 2013.

Pertumbuhannya (sangat) kecil. Di negara-negara maju bahkan lebih kecil lagi. Pasar asuransi di negara maju hampir jenuh. Nilai pertumbuhan asuransi dunia tersebut di atas sudah kombinasi dengan pertumbuhan di negara-negara berkembang yang diperkirakan hampir delapan persen.

Remang-remangnya industri asuransi dunia, tak terjadi di Indonesia. Pertumbuhan industri asuransi di tanah air selalu jauh di atas rata-rata industri dunia. Industri asuransi di Indonesia menjadi titik yang bersinar terang.

Tahun depan, pelaku industri asuransi jiwa optimis pertumbuhan berkisar 25-30 persen. Sedangkan asuransi umum diprediksi tumbuh 22-23 persen. Salah satu penopang optimisme ini adalah keyakinan pemerintah akan pertumbuhan ekonomi 6,8 persen tahun depan.

Ekonomi Indonesia tak terkena krisis seperti yang dialami negara zona Eropa dan AS. Apalagi industri asuransi yang relatif kebal krisis, tetap tumbuh baik. Hingga semester pertama 2012, pertumbuhan asuransi jiwa 16,7 persen. Sedangkan asuransi umum tumbuh 12,8 persen.

Antisipasi di Indonesia

Tahun 2013, tidak semua lini asuransi bakal naik preminya seperti asuransi properti. Premi asuransi penerbangan justru diprediksi turun (Juffry, 2012). Kenaikan dan penurunan premi (re)asuransi dunia sangat dipengaruhi oleh catatan klaim dan permintaan asuransi.

Catatan klaim yang masih bagus di Indonesia akan menahan laju kenaikan tarip premi untuk tertanggung (pemegang polis). Artinya, tertanggung yang memiliki catatan klaim yang bagus tak akan kena dampak kenaikan premi reasuransi dunia.

Di sisi lain, yang perlu diperhatikan adalah perusahaan asuransi global yang bakal agresif mencari pasar baru. Bukan di negara asalnya, tetapi di negara lain. Indonesia adalah sasaran potensial karena sektor asuransi belum tergarap optimal.

Tahun 2012 saja, raksasa asuransi asing sudah mencaplok perusahaan asuransi lokal. ACE Limited mengakuisisi Asuransi Jaya Proteksi. Dapat dua perusahaan langsung karena yang diakuisisi adalah pemilik Asuransi Jaya Proteksi Takaful yang berbasis syariah.

Di tengah persaingan ketat di industri asuransi umum tanah air, bisnis asuransi umum masih sangat menguntungkan. Demikian juga di industri asuransi jiwa yang pertumbuhannya lebih pesat.

Modal kuat asuransi asing, menemukan momentum ketika industri asuransi lokal bermodal terbatas sedang mengais-ngais cari suntikan untuk memenuhi ekuitas Rp100 miliar dengan tenggat akhir tahun 2014. Maka di tahun 2013, asuransi asing masih terus mengincar perusahaan-perusahaan lokal yang bisa diakuisisi.