Tag

, , , , , ,

Dimuat di koran Bisnis Indonesia, 17 Desember 2012

Pelaku industri asuransi nasional optimis menyongsong tahun 2013. Optimisme makin kuat dengan hadirnya OJK yang diharapkan membawa perubahan dalam regulasi dan pengawasan industri.

Optimis. Satu kata ini yang terekam di benak pelaku industri asuransi di tanah air menyongsong tahun 2013. Rencana kerja dan anggaran perusahaan 2013 umumnya sudah diselesaikan perusahaan asuransi dengan proyeksi kenaikan pendapatan.

Tahun depan, pelaku industri asuransi jiwa optimis pertumbuhan berkisar antara 25-30 persen. Sedangkan asuransi umum diprediksi tumbuh 22-23 persen. Salah satu penopang optimisme ini adalah keyakinan pemerintah akan pertumbuhan ekonomi 6,8 persen tahun depan.

Optimisme pertumbuhan industri asuransi di atas sangat wajar. Ini juga sejalan dengan rilis Fitch Ratings bulan Oktober lalu yang memprediksi kondisi stable outlook pada industri asuransi di Indonesia.

Ekonomi Indonesia tak terkena krisis seperti yang dialami negara zona Eropa dan AS. Apalagi industri asuransi yang relatif kebal krisis, tetap tumbuh baik. Hingga semester pertama 2012, pertumbuhan asuransi jiwa 16,7 persen, yakin bisa mencapai pertumbuhan 25 persen di akhir tahun. Sedangkan asuransi umum pada semester pertama tumbuh 12,8 persen. Jelang akhir tahun umumnya ada kenaikan lebih besar.

Yang menggembirakan adalah kekhawatiran menurunnya premi asuransi kendaraan tahun ini akibat ketentuan kenaikan uang muka kredit kendaraan, ternyata tak terbukti. Di semester pertama 2012, justru ada kenaikan premi 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini lebih besar dibandingkan kenaikan premi properti yang hanya sebesar 3,5 persen. Ini membuat kontribusi asuransi kendaraan pada total premi asuransi umum nasional sebesar 30,1 persen, naik dari 29,0 persen.

Di industri asuransi jiwa, hingga semester pertama 2012, premi baru produk unit link tertinggal dibandingkan premi produk asuransi tradisional. Premi baru unit link yang dikumpulkan sebesar Rp16,2 triliun, lebih rendah 6,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Rp17,3 triliun). Di sisi lain, premi baru asuransi tradisional sebesar Rp18,7 triliun atau naik 48,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Rp12,6 triliun). Kondisi ini adalah kelanjutan dari tahun lalu.

Turunnya perolehan premi unit link dan kenaikan produk asuransi tradisional dapat dilihat dari sisi positif dan negatif. Secara positif dapat dilihat bahwa masyarakat mungkin sudah mulai sadar bahwa esensi asuransi adalah proteksi, bukan investasi. Alhasil, lebih memilih produk asuransi tradisional dibandingkan unit link.

Tahun ini, industri asuransi nasional diisi dengan aktifitas pemenuhan persyaratan ekuitas minimum Rp70 miliar dan akuisisi oleh asuransi asing. Kedua isu tersebut masih berlanjut beberapa tahun depan. Dengan tambahnya ekuitas, kompetisi akan makin sengit karena investor cenderung akan berupaya maksimal untuk mendapatkan hasil dari penambahan modal.

Selain hal di atas, kemungkinan himpitan kenaikan premi reasuransi dan penurunan tarif akibat persaingan, masih akan terjadi tahun depan. Akibat Badai Sandy, premi reasuransi dunia diperkirakan naik. Namun tak serta-merta industri asuransi (umum) nasional berani menaikkan premi ke tertanggung (pemegang polis). Posisi industri asuransi nasional terhimpit. Namun sudah terbukti berkali-kali, industi asuransi nasional masih tahan.

Optimis bersama OJK

Tahun depan, industri asuransi nasional memasuki babak baru. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beroperasi. Kehadirannya memunculkan harapan baru dari sisi regulasi dan pengawasan industri. Apalagi komisioner yang terpilih, tergolong sosok yang diterima dengan baik oleh pelaku industri.

Ide-ide perbaikan dari OJK makin membawa optimisme asuransi nasional. Pengaturan tarif referensi asuransi properti, pembentukan perusahaan reasuransi yang kuat atau eksekusi perusahaan asuransi dengan RBC jeblok adalah sebagian tekad dari OJK.

Pra OJK, industri asuransi nasional berkembang baik. Dengan regulator baru, seharusnya ada lompatan perkembangan dan perbaikan industri. Ada tuntutan OJK harus lebih baik dari regulator sebelumnya. Sekaligus OJK tidak perlu melakukan kesalahan/kekurangan yang sama.

Tahun depan merupakan masa konsolidasi bagi OJK. Namun demikian, tak perlu adaptasi lagi. Langsung bisa ‘tancap gas’ karena diisi oleh mereka yang sudah pengalaman dalam pembuatan regulasi dan pengawasan industri.

Harapan pada OJK di atas dapat terealisasi lebih baik dengan beberapa catatan. Pertama, OJK perlu menggeser penekanan dari (kesan) membuat regulasi administratif menjadi regulasi substantif. Tak hanya aturan-aturan di atas kertas yang bersifat teoritis, tetapi aturan bersifat substantif-praksis.

Pegawai OJK perlu dikombinasikan dengan praktisi asuransi yang tahu seluk-beluk di lapangan. Terlebih lagi ini akan sangat bermanfaat pada saat pengawasan. Praktisi asuransi sangat ‘lihai’ bagaimana memaknai dan mengimplementasikan regulasi.

Kedua, paradigma regulasi dan pengawasan OJK harus bertumpu pada bagaimana membuat industri asuransi berkembang akseleratif, bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, sekaligus memberikan perlindungan konsumen yang memadai.

Ketiga, OJK harus tegas. Kekurangtegasan regulator justru menghambat perkembangan industri. Sekedar ukuran kecil, tarif referensi asuransi properti yang akan dibuat tahun depan harus lebih baik daripada implementasi tarif gempa bumi dan tarif referensi asuransi kendaraan.

Dengan menimbang faktor OJK ini, pertumbuhan industri asuransi tahun depan seharusnya bisa lebih optimis.

*****